Menariknya, pojok baca yang dikembangkan di kelasnya tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran sekolah. Wedha menyisihkan sebagian tunjangan guru untuk mempercantik dinding kelas dengan lukisan dan menyediakan karpet dari rumahnya sendiri.

Ia juga mengajak wali murid berpartisipasi sesuai kemampuan.

Salah satu bentuk dukungan orang tua adalah membuat pagar pojok baca secara bersama-sama selama akhir pekan. Menurut Wedha, keterlibatan tersebut diawali dengan komunikasi mengenai kebutuhan kelas dan keterbatasan dana sekolah.

“Dindingnya menggunakan dana pribadi saya, karpet juga saya bawa dari rumah. Untuk pagarnya, orang tua membantu membuat sendiri. Saya ingin anak-anak senang berada di kelas dan tertarik membaca,” jelasnya.

Dalam menyediakan bahan bacaan, Wedha menyesuaikan materi dengan kemampuan masing-masing siswa.

Karena belum memiliki buku khusus yang disusun bertahap sesuai tingkat kemampuan membaca, ia mencari dan mencetak materi dari berbagai sumber, termasuk Canva.

Ia menilai pendekatan tersebut penting karena kemampuan membaca siswa kelas 1 tidak selalu sama.

Ada yang sudah mampu mengenali kata secara langsung, sedangkan lainnya masih membutuhkan proses mengeja huruf.

Meski metode pembelajaran memiliki ketentuan tersendiri, guru tetap perlu memahami kemampuan setiap anak agar proses belajar dapat berlangsung secara bertahap.

Wedha berharap minat baca yang mulai tumbuh di sekolah dapat berlanjut di rumah.

Menurutnya, pendampingan guru saja tidak cukup karena siswa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Selain dukungan orang tua, ia berharap pemerintah dapat menambah fasilitas pembelajaran digital bagi sekolah dengan jumlah siswa relatif sedikit. Saat ini, SDN Pare 4 memiliki sekitar 50 siswa sehingga kemampuan pendanaan sekolah juga terbatas.

“Harapannya, anak-anak memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri sehingga kebiasaan membaca bisa dilanjutkan di rumah. Kami juga berharap ada tambahan fasilitas untuk membantu kegiatan pembelajaran,” pungkasnya.