KEDIRI, Tandaglobal.news — Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan upaya guru SDN Pare 4, Kabupaten Kediri, dalam menumbuhkan minat baca siswa. Salah satunya dilakukan melalui penyediaan pojok baca di ruang kelas agar anak-anak lebih nyaman belajar membaca sejak kelas awal.

Guru kelas 1 SDN Pare 4, Wedha, mengatakan sekolah sebenarnya telah memiliki fasilitas pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP). Namun, jumlahnya hanya satu unit sehingga penggunaannya harus bergantian antarkelas.

Kondisi tersebut mendorong guru mencari alternatif agar kegiatan literasi tetap berjalan.

Pojok baca menjadi salah satu cara untuk mendekatkan anak-anak dengan buku sekaligus membuat kegiatan membaca lebih menyenangkan.

“Sekolah memiliki fasilitas IFP, tetapi karena hanya satu, penggunaannya terbatas dan harus bergiliran. Jadi, guru-guru membuat sudut baca untuk membangkitkan motivasi anak-anak dalam belajar membaca,” ujar Wedha, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, mengajarkan membaca kepada siswa kelas 1 memiliki tantangan tersendiri.

Anak-anak yang sebelumnya terbiasa dengan dunia bermain di taman kanak-kanak harus mulai menyesuaikan diri dengan pembelajaran di sekolah dasar.

Karena itu, Wedha tidak selalu meminta siswa langsung membaca teks. Ia menggunakan pendekatan bermain, seperti tebak kata, bernyanyi untuk menghafalkan huruf, serta menggunakan kartu huruf.

Anak-anak juga diberi kesempatan membaca sambil duduk santai di atas karpet atau mewarnai huruf.

Kegiatan membaca biasanya dilakukan setelah siswa menjalankan salat dan saat menunggu jemputan pulang. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk mendampingi anak-anak yang masih membutuhkan bantuan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.

Wedha mengakui bahwa kondisi siswa tidak selalu sama.

Ada anak yang bersemangat belajar, tetapi ada pula yang harus dibujuk terlebih dahulu karena suasana hati atau kondisi yang dibawa dari rumah.

“Namanya anak-anak, kadang mau, kadang tidak. Gurunya harus mendampingi dulu dan membuat anak siap belajar,” tuturnya.

Menariknya, pojok baca yang dikembangkan di kelasnya tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran sekolah. Wedha menyisihkan sebagian tunjangan guru untuk mempercantik dinding kelas dengan lukisan dan menyediakan karpet dari rumahnya sendiri.

Ia juga mengajak wali murid berpartisipasi sesuai kemampuan.

Salah satu bentuk dukungan orang tua adalah membuat pagar pojok baca secara bersama-sama selama akhir pekan. Menurut Wedha, keterlibatan tersebut diawali dengan komunikasi mengenai kebutuhan kelas dan keterbatasan dana sekolah.

“Dindingnya menggunakan dana pribadi saya, karpet juga saya bawa dari rumah. Untuk pagarnya, orang tua membantu membuat sendiri. Saya ingin anak-anak senang berada di kelas dan tertarik membaca,” jelasnya.

Dalam menyediakan bahan bacaan, Wedha menyesuaikan materi dengan kemampuan masing-masing siswa.

Karena belum memiliki buku khusus yang disusun bertahap sesuai tingkat kemampuan membaca, ia mencari dan mencetak materi dari berbagai sumber, termasuk Canva.

Ia menilai pendekatan tersebut penting karena kemampuan membaca siswa kelas 1 tidak selalu sama.

Ada yang sudah mampu mengenali kata secara langsung, sedangkan lainnya masih membutuhkan proses mengeja huruf.

Meski metode pembelajaran memiliki ketentuan tersendiri, guru tetap perlu memahami kemampuan setiap anak agar proses belajar dapat berlangsung secara bertahap.

Wedha berharap minat baca yang mulai tumbuh di sekolah dapat berlanjut di rumah.

Menurutnya, pendampingan guru saja tidak cukup karena siswa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Selain dukungan orang tua, ia berharap pemerintah dapat menambah fasilitas pembelajaran digital bagi sekolah dengan jumlah siswa relatif sedikit. Saat ini, SDN Pare 4 memiliki sekitar 50 siswa sehingga kemampuan pendanaan sekolah juga terbatas.

“Harapannya, anak-anak memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri sehingga kebiasaan membaca bisa dilanjutkan di rumah. Kami juga berharap ada tambahan fasilitas untuk membantu kegiatan pembelajaran,” pungkasnya.