KEDIRI, Tandaglobal.news — Penjualan bibit ikan di kawasan Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, mulai mengalami perubahan menjelang musim hujan. Bagi pembudidaya bibit ikan tambak, pergantian musim menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan stok, harga, hingga permintaan pasar.

Rois (50), penjual bibit lele di Surowono, mengatakan penjualan saat ini cenderung menurun tipis. Meski demikian, aktivitas jual beli masih berjalan dan penurunannya belum terlalu signifikan.

“Kalau kondisi seperti sekarang, penjualan memang sedikit menurun, tetapi tidak terlalu banyak. Masih ada yang membeli,” ujar Rois, Senin (26/10/2026).

Ia menjelaskan, ketersediaan stok setiap jenis ikan berbeda.

Bibit ikan hias jenis komet masih relatif mencukupi, sedangkan bibit lele mulai sulit diperoleh. Salah satu penyebabnya adalah proses pemijahan yang cenderung lebih sulit pada periode ini sehingga jumlah bibit yang tersedia terbatas.

Menurut Rois, keterbatasan stok tidak selalu membuat harga naik.

Pada jenis ikan tertentu, harga justru bisa turun ketika permintaan belum meningkat. Penjualan bibit ikan tambak biasanya lebih ramai saat memasuki musim hujan, ketika petani mulai kembali menjalankan usaha perikanan.

“Kalau bibit ikan tambak, biasanya mulai ramai saat awal musim hujan. Pada awal musim, harganya bisa cukup tinggi. Namun, setelah berjalan sekitar satu sampai satu setengah bulan, harganya biasanya mulai turun,” jelasnya.

Berbeda dengan bibit ikan tambak yang mengikuti musim, ikan hias seperti komet relatif bisa dijual sepanjang tahun.

Sementara itu, petani di kawasan tersebut umumnya mengandalkan pembibitan ikan tambak, bukan pembesaran hingga siap konsumsi.

Bibit yang telah berumur sekitar sepuluh hari biasanya mulai dijual kepada pembeli dari berbagai daerah.

Pengiriman dari kawasan Surowono antara lain menuju Lamongan, Gresik, Tuban, dan Sidoarjo, bahkan sebagian menjangkau wilayah Jawa Tengah.

Namun, kegiatan pembibitan ikan tambak cenderung berkurang ketika musim kemarau.

Keterbatasan air membuat sebagian petani beralih menanam padi sehingga produksi bibit ikan ikut menyesuaikan kondisi lahan dan ketersediaan air.

Rois menuturkan, pengairan menjadi salah satu faktor penting bagi petani bibit ikan.

Sebagian mengandalkan giliran aliran air, sedangkan lainnya menggunakan pompa untuk memperoleh pasokan air ketika akses ke sumber air terbatas.

Memasuki musim hujan, ia berharap aktivitas pembibitan kembali meningkat seiring pulihnya kegiatan perikanan tambak di sejumlah daerah.

Meski penjualan saat ini belum seramai musim puncak, peluang pasar masih terbuka bagi pembibit yang mampu menjaga ketersediaan stok dan kualitas bibit.

Bagi Rois, perubahan musim menjadi siklus yang sudah biasa dihadapi selama sekitar 20 tahun menekuni usaha ikan.

Karena itu, pelaku usaha perlu menyesuaikan produksi dan penjualan dengan kondisi pasar serta ketersediaan air agar usaha tetap berjalan.