KEDIRI, Tandaglobal.news — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Plosoklaten menggelar Diseminasi Training of Trainers (ToT) PGRI Power di SMK Negeri 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Rabu (21/10/2026). Kegiatan bertema Transformasi Pendidikan melalui AI dan Coding ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar.

Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00 hingga 13.30 WIB tersebut melibatkan perwakilan guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD, TK, SD, MI, SMP, SMA hingga SMK.

Setiap lembaga mengirimkan satu guru untuk mengikuti pelatihan sekaligus meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan sejawat di sekolah masing-masing.

Ketua PGRI Cabang Plosoklaten, Sudarsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar peserta dapat membagikan kembali materi dan praktik pemanfaatan teknologi kepada guru lainnya.

“Tujuannya agar Bapak dan Ibu guru yang sudah menerima materi bisa menyalurkan kembali pengetahuan tersebut kepada guru-guru di lembaganya masing-masing, sehingga dapat membantu pelaksanaan proses belajar mengajar,” jelasnya.

Menurut Sudarsih, penguasaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan coding semakin penting seiring perkembangan teknologi.

Guru perlu terus meningkatkan kemampuan agar mampu mengikuti perubahan di dunia pendidikan.

“Ini sangat penting karena tuntutan zaman. Dengan menguasai teknologi, guru bisa mengikuti perkembangan dan tidak tertinggal,” tambahnya.

Pemateri kegiatan, Kiki Rextika Diani Putri, mengatakan bahwa peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan teori, tetapi juga berlatih memanfaatkan AI untuk menghasilkan media pembelajaran.

Materi pelatihan meliputi pembuatan game edukasi, laboratorium digital, aplikasi berbasis ponsel, serta penyusunan buku dan perangkat pembelajaran.

Peserta juga mempelajari pembuatan sampul, identitas RPP, materi, hingga presentasi.

“Pelatihan dilakukan secara interaktif. Setelah mendapatkan materi dasar, peserta langsung mempraktikkannya agar bisa memahami proses pembuatan media pembelajaran dengan bantuan AI,” papar Kiki.

Dalam sesi praktik, peserta mempelajari penggunaan sejumlah perangkat digital, termasuk NotebookLM dan Google Gemini, untuk membantu menyusun materi serta menghasilkan media pembelajaran yang lebih menarik.

Kiki menambahkan bahwa sebagian besar peserta dapat mengikuti pelatihan dengan baik.

Meski demikian, beberapa peserta sempat mengalami kesulitan dalam menyusun prompt atau instruksi untuk AI. Kendala tersebut diatasi melalui pendampingan.

“Ketika ada peserta yang masih kesulitan menyusun prompt, kami memberikan pendampingan, misalnya dalam menentukan topik materi agar hasil yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pembelajaran,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, guru diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan media dan aplikasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.

Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar dan dibagikan kepada guru lain di sekolah masing-masing.