Ilustrasi aktivitas pelajar di Kabupaten Kediri di tengah sorotan meningkatnya angka siswa yang tidak melanjutkan pendidikan. ( dok. ilustrasi)

Tandaglobalnews KEDIRI — Potensi angka putus sekolah di Kabupaten Kediri masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini dari sumber terpercaya di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, ribuan siswa setiap tahunnya tercatat tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, mayoritas kasus putus sekolah bukan semata-mata disebabkan keterbatasan ekonomi. Justru, faktor rendahnya motivasi belajar dan keinginan untuk bekerja lebih dini menjadi penyebab yang lebih dominan.

“Kalau yang benar-benar tidak mampu jumlahnya tidak sampai ratusan ribu seperti yang dibayangkan. Yang menjadi persoalan justru banyak yang sebenarnya mampu, tetapi malas melanjutkan sekolah,” ujar sumber tersebut kepada media ini.

Menurutnya, tren ini paling banyak ditemukan pada lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA atau sederajat. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah siswa SMP yang tidak melanjutkan sekolah diperkirakan mencapai hampir 3.000 anak.

“Yang paling banyak itu dari SMP ke SMA. Jumlahnya hampir 3.000 anak,” katanya.

Sementara itu, angka putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan pada jenjang SD ke SMP relatif lebih rendah. Sumber tersebut memperkirakan jumlahnya berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 anak setiap tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan dunia pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses dan biaya pendidikan, tetapi juga menyangkut kesadaran serta motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan formal.

Salah satu siswa yang memilih berhenti sekolah dan meminta identitasnya disamarkan mengaku lebih tertarik bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan. Remaja yang disebut dengan inisial AR itu mengatakan dirinya bercita-cita bekerja di luar negeri untuk membantu perekonomian keluarga.

“Saya sebenarnya bisa lanjut sekolah, tapi merasa lebih baik kerja. Teman-teman saya juga ada yang sudah kerja. Saya ingin cari pengalaman dan kalau ada kesempatan ingin kerja ke luar negeri supaya bisa cepat dapat penghasilan,” ujar AR.

Meski demikian, AR mengakui bahwa keputusan tersebut membuatnya harus mengorbankan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Pengamat pendidikan menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Selain penguatan program bantuan pendidikan, diperlukan upaya yang lebih intensif untuk menumbuhkan kesadaran siswa dan orang tua mengenai pentingnya pendidikan sebagai bekal menghadapi persaingan kerja di masa depan.

Pemerintah daerah, sekolah, serta masyarakat diharapkan dapat bersinergi untuk menekan angka putus sekolah agar semakin banyak generasi muda Kabupaten Kediri yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Jurnalis : Wildan Wahid Hasyim