“Balon dan pisang satu tundun juga harus ada dan digantung bersama. Itu sudah menjadi bagian dari ketentuan yang selama ini dijaga dalam Bersih Dusun Nanas,” jelasnya.
Ketentuan tersebut semakin diperhatikan masyarakat karena adanya pengalaman pada pelaksanaan Bersih Dusun sebelumnya ketika beberapa perlengkapan yang dianggap penting tidak disiapkan secara lengkap.
Salah seorang warga Dusun Nanas menuturkan, pada salah satu pelaksanaan sebelumnya balon tidak disediakan dan pisang yang digunakan juga tidak dalam kondisi satu tundun.
Selain itu, menurut penuturannya, bagian ujup-ujup atau penyampaian doa dan penghormatan oleh sesepuh juga tidak dilakukan secara lengkap.
“Waktu itu balonnya tidak ada dan pisangnya juga tidak lengkap satu tundun. Saat acara berlangsung kemudian terjadi hujan disertai angin yang sangat kencang,” tuturnya.
Warga tersebut juga mengaitkan kejadian itu dengan suasana yang terjadi selama pelaksanaan tradisi.
Ia menuturkan terdapat warga yang mengalami kesurupan.
Selain itu, genset yang digunakan untuk mendukung sound system juga mengalami kerusakan hingga terbakar.
“Waktu itu bukan hanya hujan angin, ada warga yang kesurupan. Saat ujup-ujup sesepuh juga tidak lengkap, kemudian genset sound system sampai terbakar,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut masih diingat oleh sebagian masyarakat sehingga kelengkapan pelaksanaan tradisi kini semakin diperhatikan.
Namun, peristiwa tersebut merupakan kepercayaan dan penuturan warga setempat, bukan sesuatu yang dapat dipastikan memiliki hubungan sebab-akibat secara faktual.
Bagi masyarakat Dusun Nanas, berbagai ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
Tradisi Bersih Dusun tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda.




















Tinggalkan Balasan