JAKARTA, Tandaglobal.news Petani tebu yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) kembali mendesak pemerintah segera menaikkan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula petani. Organisasi tersebut mengusulkan HPP gula tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp16.875 per kilogram, setelah harga gula lelang terus melemah sementara biaya produksi meningkat.

Ketua Umum DPN APTRI, Soemitro Samadikoen, menilai HPP yang masih berada di angka Rp14.500 per kilogram sudah tidak lagi mencerminkan kondisi biaya produksi petani.

Menurutnya, angka tersebut belum mengalami penyesuaian sejak 2024, sedangkan sejumlah komponen biaya usaha tani terus mengalami kenaikan.

“Kami mengusulkan HPP gula petani tahun 2026 sebesar Rp16.875 per kilogram. Sudah tiga tahun HPP tidak naik, padahal biaya pokok produksi terus meningkat, mulai dari pupuk non-subsidi, upah tenaga kerja, sewa lahan hingga transportasi.”

APTRI menilai kenaikan HPP diperlukan untuk menjaga agar usaha budidaya tebu tetap layak secara ekonomi.

Kebijakan tersebut juga dianggap penting untuk mempertahankan minat petani menanam tebu sekaligus mendukung upaya peningkatan produksi gula nasional.

Tekanan terhadap petani tidak hanya berasal dari biaya produksi. Harga lelang gula juga disebut mengalami penurunan selama musim giling 2026.

Sekretaris Jenderal DPN APTRI, M. Nur Khabsyin, menyebut harga lelang yang pada awal musim giling Mei masih berada di kisaran Rp16.000 per kilogram, kemudian turun menjadi sekitar Rp15.300 per kilogram pada akhir Juli.

Di sejumlah daerah, harga bahkan disebut hanya mencapai sekitar Rp15.200 per kilogram.

“Kalau kondisi ini dibiarkan dan musim giling terus berjalan, harga lelang gula petani akan semakin turun. Ini yang sangat dikhawatirkan petani.”

Menurut APTRI, persoalan lain muncul dari tingkat rendemen tebu yang dinilai belum sesuai dengan kondisi tanaman di lapangan.

Padahal, tebu yang telah memasuki masa panen dan didukung kondisi kemarau semestinya mampu menghasilkan rendemen lebih tinggi.

“Secara objektif kondisi tebu sudah tua, sudah masak dan cuaca juga mendukung karena musim kemarau. Mestinya rendemen minimal sudah 7,5-8 persen.”