KEDIRI, Tandaglobal.news — Di tengah pesatnya penggunaan traktor sebagai alat pengolah lahan pertanian, sebagian petani di Dusun Tanggungmulyo, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, masih mempertahankan cara tradisional dengan memanfaatkan sapi untuk membajak sawah. Selain dinilai lebih ramah lingkungan, metode ini juga dianggap mampu menjaga kualitas tanah dan menghemat biaya operasional.

Giran mengatakan hingga kini masih ada petani yang memanfaatkan jasa bajak sapi, terutama untuk lahan yang sempit dan sulit dijangkau mesin traktor.

“Kalau sawahnya sempit atau berada di lokasi yang sulit dimasuki traktor, petani masih memilih memakai bajak sapi. Selain itu, tanah juga tidak terlalu padat setelah dibajak,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Menurut Giran, penggunaan sapi tidak hanya berfungsi sebagai alat pembajak sawah, tetapi juga memberikan manfaat lain bagi lahan pertanian.

Kotoran ternak yang jatuh selama proses pembajakan menjadi pupuk organik alami yang membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Meski demikian, ia mengakui penggunaan bajak sapi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan traktor.

Proses pembajakan memerlukan tenaga lebih besar, baik dari pemilik maupun ternaknya, sehingga pekerjaan tidak dapat diselesaikan secepat menggunakan mesin modern.

“Memang lebih lama dibandingkan traktor, tetapi biaya operasionalnya lebih ringan karena tidak membutuhkan bahan bakar. Yang penting ternaknya sehat dan tetap dirawat setiap hari,” katanya.

Selain dimanfaatkan sebagai alat kerja, sapi juga memiliki nilai ekonomi bagi petani.

Hewan tersebut dapat dipelihara sebagai aset yang sewaktu-waktu bisa dijual saat membutuhkan biaya mendesak.

Di sisi lain, Giran menuturkan jumlah orang yang mampu mengendalikan bajak sapi semakin berkurang.

Generasi muda kini lebih memilih menggunakan mesin sehingga keahlian membajak sawah secara tradisional mulai jarang ditemui.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia berharap tradisi membajak sawah dengan sapi tetap dapat dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya pertanian sekaligus menjadi alternatif bagi petani yang memiliki lahan dengan kondisi tertentu.

“Harapan saya, cara tradisional ini jangan sampai hilang. Selain masih bermanfaat bagi petani, membajak dengan sapi juga menjadi bagian dari budaya pertanian yang perlu dijaga,” pungkasnya.