
KEDIRI, Tandaglobal.news — Tradisi Bersih Dusun Nanas di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, memiliki sejumlah ketentuan adat yang terus dijaga masyarakat.
Selain menjadi wujud rasa syukur dan doa bersama, pelaksanaan tradisi ini juga mengikuti aturan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Dusun Nanas Haji Sukarji mengatakan, terdapat tiga ketentuan utama yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Bersih Dusun Nanas.
Ketentuan tersebut meliputi waktu pelaksanaan, tembang yang wajib dibawakan, serta kelengkapan ubarampe berupa balon dan satu tundun pisang.
“Yang pertama, pelaksanaan harus pada bulan Safar. Utamanya Jumat Legi, tetapi kalau tidak ada Jumat Legi bisa dilaksanakan pada Jumat Pahing,” ujar Sukarji, Jumat (7/8/2026).
Ketentuan kedua berkaitan dengan kesenian yang mengiringi rangkaian acara.
Dalam tradisi Bersih Dusun Nanas, terdapat tujuh tembang yang menjadi bagian wajib, yakni Sinom, Eling-Eling, Gambir Sawit, Gonggo Mino, Angkleng, Godril, dan Pangkur Pos.
Tujuh tembang tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan masyarakat.
Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai pengiring acara, tetapi juga menjadi identitas tradisi Bersih Dusun Nanas yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, ketentuan ketiga berkaitan dengan perlengkapan yang harus disiapkan selama pelaksanaan tradisi.
Masyarakat diwajibkan menyediakan beberapa balon dan satu tundun pisang yang kemudian digantung bersama sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
“Balon dan pisang satu tundun juga harus ada dan digantung bersama. Itu sudah menjadi bagian dari ketentuan yang selama ini dijaga dalam Bersih Dusun Nanas,” jelasnya.
Ketentuan tersebut semakin diperhatikan masyarakat karena adanya pengalaman pada pelaksanaan Bersih Dusun sebelumnya ketika beberapa perlengkapan yang dianggap penting tidak disiapkan secara lengkap.
Salah seorang warga Dusun Nanas menuturkan, pada salah satu pelaksanaan sebelumnya balon tidak disediakan dan pisang yang digunakan juga tidak dalam kondisi satu tundun.
Selain itu, menurut penuturannya, bagian ujup-ujup atau penyampaian doa dan penghormatan oleh sesepuh juga tidak dilakukan secara lengkap.
“Waktu itu balonnya tidak ada dan pisangnya juga tidak lengkap satu tundun. Saat acara berlangsung kemudian terjadi hujan disertai angin yang sangat kencang,” tuturnya.
Warga tersebut juga mengaitkan kejadian itu dengan suasana yang terjadi selama pelaksanaan tradisi.
Ia menuturkan terdapat warga yang mengalami kesurupan.
Selain itu, genset yang digunakan untuk mendukung sound system juga mengalami kerusakan hingga terbakar.
“Waktu itu bukan hanya hujan angin, ada warga yang kesurupan. Saat ujup-ujup sesepuh juga tidak lengkap, kemudian genset sound system sampai terbakar,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut masih diingat oleh sebagian masyarakat sehingga kelengkapan pelaksanaan tradisi kini semakin diperhatikan.
Namun, peristiwa tersebut merupakan kepercayaan dan penuturan warga setempat, bukan sesuatu yang dapat dipastikan memiliki hubungan sebab-akibat secara faktual.
Bagi masyarakat Dusun Nanas, berbagai ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
Tradisi Bersih Dusun tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda.




















Tinggalkan Balasan