Kediri, TandaGlobalNews – Semarak Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Kediri tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga mendorong kreativitas dan kemandirian ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui lomba memasak kreasi olahan singkong yang digelar PC Muslimat NU Kabupaten Kediri dalam rangkaian Expresi Santri 2026 di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), Sabtu (26/9/2026).
Lomba tersebut mengangkat singkong sebagai bahan pangan lokal yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk makanan.
Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 26 kecamatan di Kabupaten Kediri, dengan masing-masing kecamatan mengirimkan dua peserta untuk mengolah singkong menjadi sajian yang menarik dan bernilai jual.
Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Kediri, Mudawamah, mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menginspirasi ibu-ibu Muslimat agar mampu memanfaatkan bahan pangan lokal menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi. Menurutnya, singkong merupakan salah satu potensi yang banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Kediri, terutama kawasan pegunungan dan tegalan.
“Singkong menjadi salah satu potensi besar Kabupaten Kediri. Kami ingin ibu-ibu Muslimat bisa mengolahnya menjadi berbagai makanan. Harapannya, olahan tersebut memiliki nilai tambah dan bisa membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Mudawamah berharap lomba yang digelar dalam rangkaian Hari Santri Nasional tersebut dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Ia juga mendorong munculnya inovasi baru berbahan dasar singkong yang dapat dikembangkan menjadi produk usaha.
“Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut. Kami ingin muncul inovasi baru dari bahan singkong,
sehingga ibu-ibu Muslimat bisa mengembangkannya menjadi usaha,” ungkapnya.
Dalam perlombaan tersebut, seluruh peserta diwajibkan mengolah bahan dari kondisi mentah di lokasi. Singkong masih dalam keadaan utuh dan harus diparut secara manual, begitu pula kelapa yang digunakan sebagai bahan pendukung. Peserta diberikan waktu selama dua jam untuk menyelesaikan masakan masing-masing.
Beragam kreasi pun muncul dari para peserta. Singkong diolah menjadi berbagai makanan, mulai dari lauk hingga kudapan seperti menjeng, dimsum, risoles, ongol-ongol, dan kue lapis singkong. Perwakilan PAC Muslimat NU Kecamatan Semen, misalnya, memilih membuat ongol-ongol singkong dan kue lapis singkong.
Sutiyah (57), peserta dari PAC Muslimat NU Kecamatan Semen, menyampaikan, timnya harus mengolah seluruh bahan dari awal di lokasi perlombaan. Proses tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kondisi cuaca membuat api kompor sempat terganggu saat proses pengukusan.
“Kompor sempat terkena angin sehingga apinya mupat-mupit. Pengukusan yang biasanya sekitar 10 menit menjadi 15 menit. Meski begitu, kami tetap berusaha menyelesaikan masakan tepat waktu,” ujarnya.
Meski menghadapi kendala teknis, tim dari PAC Muslimat NU Kecamatan Semen tetap menyelesaikan dua menu yang mereka buat sesuai batas waktu perlombaan. Proses pengolahan dilakukan langsung di lokasi dengan menggunakan singkong dan kelapa yang masih dalam kondisi mentah.
Penilaian lomba mencakup beberapa aspek, di antaranya rasa dengan bobot 30 persen, penyajian 25 persen, kebersihan 10 persen, serta ketepatan waktu. Selain memperebutkan Juara 1, 2, dan 3, peserta juga bersaing untuk meraih Juara Harapan 1, 2, dan 3.
Kegiatan tersebut juga diarahkan agar hasil lomba tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Salah satu dewan juri, Bu Lia, disebut membuka peluang untuk memesan produk olahan singkong dari peserta melalui outlet produk makanan rumahan yang dimilikinya.
Reporter: Maulana Rahmadha
Editor: Rizky Rusdiyanto



















Tinggalkan Balasan