KEDIRI, Tandaglobal.news — Di tengah maraknya minuman modern pada 2026, Sesmiati (57), warga Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tetap mempertahankan usaha jamu tradisional warisan keluarganya yang telah dijalankan selama puluhan tahun.

Usaha tersebut bukan sekadar sumber penghasilan bagi Sesmiati, tetapi juga menjadi cara untuk meneruskan tradisi keluarga. Ia melanjutkan usaha neneknya yang telah berjualan jamu sejak era 1960-an. Sementara itu, Sesmiati mulai menekuni usaha tersebut pada 1991 dan terus bertahan hingga sekarang.

Saat ditanya kapan mulai berjualan jamu, Sesmiati menjawab singkat, “Tahun 91.” Ia mengaku menjalankan usaha tersebut karena mengikuti kebiasaan keluarganya yang telah berlangsung sejak lama.

Setiap hari, Sesmiati mulai berjualan pukul 06.00 WIB dengan berkeliling di sekitar Desa Satak. Ia biasanya mengakhiri aktivitasnya sekitar pukul 12.00 WIB setelah dagangannya habis.

“Pokok neng Satak mawon,” ujar Sesmiati saat menjelaskan wilayah tempatnya berjualan. Ia memilih menawarkan jamu di desanya sendiri agar bisa menjangkau masyarakat setempat.

Ada beberapa jenis jamu tradisional yang dijualnya, antara lain kunyit asam, kencur, dan kunci suruh. Ketiganya dibanderol dengan harga Rp10.000 per botol.

“Rp10.000,” kata Sesmiati ketika menjelaskan harga jamu kemasan botol. Ia juga menyediakan jamu dalam kemasan plastik dengan harga lebih terjangkau, yakni Rp1.000 per porsi.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Sesmiati membeli bahan baku jamu langsung dari pasar. “Lek blonjo bahan jamune nek pasar karangdinoyo,” tuturnya saat menjelaskan tempat membeli bahan-bahan untuk dagangannya.

Selain jamu, ia menjual aneka gorengan sebagai pelengkap dagangan. Pilihannya meliputi pisang goreng, tape goreng, dan ote-ote yang masing-masing dijual seharga Rp1.000 per biji.

Di tengah perkembangan industri minuman modern yang menawarkan beragam rasa, kemasan menarik, dan pemasaran melalui media sosial, usaha jamu tradisional menghadapi tantangan tersendiri. Namun, Sesmiati tetap menjalankan usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ia tidak memasang target muluk-muluk. Baginya, usaha yang berjalan lancar dan bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah menjadi harapan penting.

“Ya biasa ae, mugo-mugo tambah lancar, tambah sukses ngono yha,” ungkapnya mengenai harapan untuk usaha jamu yang dijalaninya.

Perjalanan Sesmiati menunjukkan bahwa usaha tradisional masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Penjual jamu seperti dirinya turut menjaga agar minuman berbahan rempah tetap dikenal masyarakat, ketika pilihan minuman modern semakin beragam.

Konsistensinya selama puluhan tahun juga memperlihatkan bagaimana warisan keluarga dapat terus dipertahankan melalui kegiatan ekonomi sederhana. Di tengah persaingan usaha minuman pada 2026, Sesmiati tetap mengandalkan produk yang telah dikenalnya sejak lama.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian jamu tradisional tidak hanya bergantung pada promosi atau industri berskala besar. Pedagang kecil yang mempertahankan usaha turun-temurun juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan warisan kuliner tradisional Indonesia.