KEDIRI, Tandaglobal.news — Penurunan debit air bersih dan kerusakan jalan menjadi keluhan warga di sekitar kawasan pertambangan Perkebunan Damarwulan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Warga mendesak agar aktivitas pertambangan dievaluasi, bahkan dihentikan, demi memulihkan sumber air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga menilai debit air yang mengalir ke permukiman mengalami penurunan dibandingkan sebelum adanya aktivitas pertambangan. Jika sebelumnya aliran air bersih dirasakan lancar, kini ketersediaannya semakin terbatas, terutama saat musim kemarau.

Supriyadi (74), salah seorang warga terdampak, mengatakan ketersediaan air bersih menjadi persoalan penting bagi masyarakat. Warga berharap sumber air yang selama ini dimanfaatkan dapat kembali mengalir normal.

“Sebelum ada aktivitas tambang, aliran air bersih di sini lancar. Sekarang debitnya berkurang drastis, apalagi saat musim kemarau. Kami berharap sumber air bisa kembali normal karena air sangat dibutuhkan warga setiap hari,” ujar Supriyadi.

Menurut warga, penurunan ketersediaan air juga berkaitan dengan kondisi musim kemarau dan fenomena El Nino. Namun, mereka menduga aktivitas pertambangan turut memperparah penurunan debit air sehingga dampaknya perlu diperiksa lebih lanjut oleh instansi berwenang.

Selain sumber air yang digunakan masyarakat, warga juga mengeluhkan aliran air dari kawasan pegunungan yang menjadi sumber pasokan PDAM. Menurut mereka, aliran tersebut tidak lagi lancar dan waktu ketersediaannya terbatas.

Supriyadi menegaskan, warga berharap ada tindakan nyata untuk mengatasi persoalan tersebut. Mereka meminta aktivitas pertambangan ditutup agar pemulihan sumber air menjadi prioritas.

“Harapan kami tambang bisa ditutup supaya sumber air warga kembali pulih. Kalau belum ada penyelesaian, setidaknya operasional dihentikan sementara sambil menunggu musim hujan dan dilakukan evaluasi terhadap kondisi sumber air,” imbuhnya.

Keluhan lainnya adalah kerusakan jalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Sejumlah ruas jalan aspal dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari berlubang hingga rusak parah. Warga menduga lalu-lalang truk dan kendaraan berat yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan turut memperburuk kondisi jalan.

Tarji, Ketua RT 03 Desa Puncu, mengatakan kerusakan jalan dan terganggunya akses air bersih menjadi persoalan yang merugikan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, kondisi jalan yang rusak dan berlubang membuat warga harus menghadapi akses yang kurang nyaman. Kerusakan tersebut juga disebut pernah terjadi cukup parah di ruas jalan dekat area kepolisian.