KEDIRI, Tandaglobal.news — Panggung utama Ekspresi Santri 2026 di kawasan ikonik Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri menjadi saksi prestasi Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an (PPRQ) Al-Hikmah Purwoasri. Pesantren ini berhasil meraih Juara 1 kategori putra dan putri dalam babak final Musabaqah Hifdzil Nazham Imriti dalam rangka Peringatan Hari Santri 2026 di kawasan SLG, Selasa (29/9/2026).

Berdasarkan penilaian para juri yang disampaikan kepada panitia pelaksana RMI PCNU Kabupaten Kediri bersama Kemenag dan Pemkab Kediri, grup Zahrotul Musthofa dari PPRQ Al-Hikmah Purwoasri meraih podium puncak kategori putri dengan skor tertinggi 2.810 poin.

Posisi Juara 2 diraih grup Dar-El Bahiyah dengan 2.720 poin, disusul Zahrotul Muhibbin di tempat ketiga dengan 2.610 poin. Sementara itu, Harapan 1 dan Harapan 2 masing-masing diraih Ijtihadut Tholibin dengan 2.600 poin dan Qotrun Nada dengan 2.490 poin.

Prestasi PPRQ Al-Hikmah Purwoasri semakin lengkap setelah pada kategori putra, grup Almisbah turut menyabet Juara 1 dengan raihan 2.715 poin.

Juara 2 kategori putra diraih Ijtihadut Tholibin dengan 2.595 poin, Juara 3 oleh Al Islahiyah dengan 2.445 poin. Posisi Harapan 1 dan Harapan 2 ditempati Darussalam Group dengan 2.390 poin dan Al Munifah dengan 2.360 poin.

Di balik raihan juara ganda tersebut, tersimpan kisah persiapan yang sangat singkat sekaligus penuh inovasi seni budaya. Pembina Lalaran PPRQ Al-Hikmah Purwoasri, Gus Habibullah Muhammad, mengatakan anak asuhnya hanya menjalani persiapan latihan intensif selama tiga hari sejak pengumuman finalis dikeluarkan.

Meski memiliki waktu terbatas, pihaknya mengubah konsep penampilan yang sebelumnya menggunakan timbo atau perkusi sederhana menjadi pertunjukan dengan instrumen gamelan Jawa.

“Apalagi saya mengubah konsep yang awalnya timbo (perkusi sederhana), untuk final ini menggunakan instrumen gamelan Jawa. Notabenenya santri putra maupun putri belum ada yang bisa. Hanya dalam waktu satu hari kami latih, alhamdulillah mereka bisa menyesuaikan dengan lagunya,” jelasnya saat ditemui usai pengumuman pemenang.

Pilihan mengusung gamelan tradisional Kejawen dan irama bernuansa Jawa, menurutnya, sengaja diambil untuk memperkuat karakter budaya lokal yang dipadukan dengan tradisi hafalan nadhom kitab klasik pesantren.

Bekal kebiasaan santri ngelalar nadhom setiap hari di pondok menjadi modal yang memudahkan mereka beradaptasi dengan materi dalam waktu singkat.

Gus Habibullah juga membeberkan strategi khusus untuk menjaga mentalitas para santri agar tidak tertekan saat menghadapi panggung megah SLG Kediri. Ia sengaja merahasiakan lokasi dan kemegahan panggung final dari para peserta hingga hari pelaksanaan.

“Saya sembunyikan itu agar teman-teman santri tidak menduga lombanya bakal semeriah ini, sehingga mereka bisa tetap tenang dan fokus dalam penampilannya. Sesuai dawuh Abah Kiai, jangan memikirkan juara karena juara itu bonus, yang penting tampil maksimal,” ucapnya.

Apresiasi tinggi turut disampaikan Gus Habibullah kepada RMI PCNU Kabupaten Kediri dan panitia penyelenggara atas kemasan kompetisi yang kreatif dan menantang.

Format ajang yang mengharuskan santri menyambung bait nadhom secara spontan di tengah-tengah penampilan dinilainya sebagai ujian mental dan keilmuan yang luar biasa bagi seorang santri.

Menurutnya, format tersebut sekaligus menunjukkan kualitas para juara dalam rangkaian Peringatan Hari Santri 2026.