KEDIRI, Tandaglobal.news — Misteri penemuan jasad bayi laki-laki yang terkubur di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, akhirnya terungkap. Satreskrim Polres Kediri meringkus sepasang kekasih yang merupakan orang tua kandung bayi tersebut. Keduanya diduga bersekongkol menghabisi nyawa bayinya karena takut dan malu kehamilan di luar nikah diketahui.

Dalam konferensi pers di Mapolres Kediri, Rabu (7/10/2026), Kapolres Kediri AKBP Muhammad Wahyudin Latif membeberkan kronologi dan identitas kedua tersangka.

Keduanya yakni TW, perempuan berusia 23 tahun asal Desa Tunglur, Kecamatan Badas, serta DA, laki-laki berusia 22 tahun asal Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. Pasangan tersebut diketahui telah menjalin hubungan asmara selama dua tahun.

Kasus ini bermula ketika TW mengalami kontraksi pada Jumat (2/10/2026) malam. Ia sempat mencoba menghubungi DA, tetapi panggilan tersebut tidak tersambung karena telepon seluler DA kehabisan daya.

Pada Sabtu (3/10/2026), TW kemudian melahirkan secara normal seorang diri di kamar mandi rumahnya.

Saat mendengar bayi laki-laki yang baru dilahirkannya menangis, TW membekap hidung dan mulut korban menggunakan kedua tangannya selama sekitar 15 menit hingga bayi tersebut meninggal dunia.

Jasad bayi kemudian dibungkus menggunakan kain hijab berwarna krem dan hitam, lalu dimasukkan ke dalam kantong kresek hitam.

TW sempat menyembunyikan jasad tersebut di dalam lemari pakaian.

Pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, DA datang ke rumah TW untuk mengambil jasad bayi tersebut.

Jasad kemudian dibawa pulang dan dikuburkan di pekarangan belakang rumah warga di Gedangsewu.

Jasad bayi itu kemudian ditemukan secara tidak sengaja sehari setelahnya.

Kapolres menjelaskan, kehamilan TW hingga memasuki usia sembilan bulan tidak diketahui keluarga karena perubahan pada postur tubuhnya tidak terlihat mencolok.

Saat persalinan berlangsung, terdapat orang lain di rumah, tetapi diduga tidak mengetahui proses tersebut.

“Untuk perawakannya dan kondisi fisiknya memang kebetulan tidak terlihat kehamilannya, sehingga sampai hamil tua pun tidak ada yang tahu. Pada waktu persalinan sebenarnya ada orang di rumah, cuma mungkin tidak dengar, sehingga proses persalinannya dilakukan sendiri tanpa dibantu orang lain,” ungkap AKBP Muhammad Wahyudin Latif.