KEDIRI, TandaGlobalNews –Gladi lapangan atau Field Training Exercise (FTX) penanganan potensi erupsi Gunung Kelud digelar di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini menjadi tahap lanjutan setelah sebelumnya dilakukan Table Top Exercise (TTX) atau gladi ruang pada 1 Oktober 2026.

Sekjen Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Jawa Timur, Catur Sudarmanto mengatakan, FTX menjadi sarana untuk menguji sejauh mana setiap unsur mampu menjalankan tugas setelah menerima instruksi dari komandan operasi.

“Kalau TTX kita masih berbicara atau menyampaikan peran dan tugas masing-masing secara teori. Hari ini kita praktikkan secara nyata di lapangan, bagaimana evakuasi warga dilakukan, dan bagaimana armada bergerak termasuk bagaimana tim kesehatan merespons ketika ada informasi korban,” jelasnya.

Menurutnya, kecepatan respons menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan keadaan darurat. Karena itu, komunikasi dalam simulasi dilakukan menggunakan jaringan radio HT agar informasi dan perintah dapat diteruskan secara cepat kepada masing-masing unit.

Pria disapa akrab Mbah Darmo itu menjelaskan, terdapat lima bidang operasi yang menjadi fokus dalam gladi lapangan, yakni pelayanan kesehatan, air bersih dan sanitasi (Watsan), perbaikan sarana dan prasarana, perlindungan, serta pencarian, pertolongan dan evakuasi (PPE).

Setiap unit dituntut mampu merespons berbagai dinamika yang dimasukkan dalam skenario atau inject selama simulasi. Misalnya, apabila terdapat warga yang tertinggal atau lansia yang belum berhasil dievakuasi, tim harus memastikan proses penyelamatan tetap berjalan.

Begitu pula jika jalur evakuasi mengalami hambatan, seperti adanya kegiatan warga maupun kendaraan yang mogok. Dalam kondisi tersebut, unsur perhubungan bersama TNI dan Polri harus segera mencari alternatif agar jalur evakuasi tidak terhenti.

“Yang kita uji bukan hanya kondisi yang ideal. Ada dinamika di lapangan. Misalnya ada warga yang belum terevakuasi, jalur terhambat, atau ada persoalan sarana prasarana. Semua itu harus bisa direspons oleh unit terkait,” ucapnya.

Sementara itu Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Kabupaten Kediri, Dadik Raharja menuturkan, gladi lapangan mengacu pada pembagian tugas yang telah dituangkan dalam Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana (RPKB).

Masing-masing unit memiliki koordinator sesuai tugas dan fungsi. Unit PPE dikoordinasikan oleh Kasi Kedaruratan dan Logistik, unit perlindungan dan pengungsian berada di bawah Dinas Sosial, unit perbaikan sarana dan prasarana kritis dikoordinasikan Dinas PUPR, Watsan oleh Dinas Perkim, sedangkan pelayanan kesehatan ditangani Dinas Kesehatan.

“Skenario penanganan disusun secara bertahap berdasarkan perkembangan status Gunung Kelud,” ujarnya.

Pada tahap H-3, skenario dimulai dari penerimaan informasi peningkatan status dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA), kemudian dilanjutkan koordinasi dan briefing kesiapsiagaan seluruh unit operasi.

Memasuki H-2, status disimulasikan meningkat sehingga dilakukan pengarahan kembali, evakuasi mandiri warga, pendataan pengungsi, hingga persiapan evakuasi ternak bersama dinas terkait.

“Setiap tahapan sudah ada skenarionya. Jadi ketika informasi diterima, langsung ada alur siapa yang menerima, siapa yang meneruskan, kemudian siapa yang memberikan perintah kepada masing-masing unit,” tambahnya.

Pada tahap H-1, simulasi masuk pada kondisi yang lebih darurat. Perintah evakuasi warga diberikan, jumlah pengungsi bertambah, sementara unit sarana prasarana, air bersih dan sanitasi serta pelayanan kesehatan dituntut memberikan respons cepat.

Untuk pelayanan kesehatan, skenario juga mencakup evakuasi medis menggunakan kendaraan menuju pos pertolongan atau lokasi triase.

Sedangkan pada tahap H-0 hingga pascabencana, petugas disimulasikan menangani warga yang masih tertinggal melalui operasi pencarian dan pertolongan. Setelah terdapat informasi penurunan status dari PPGA, skenario dilanjutkan dengan proses pemulangan warga ke daerah asal.

Gladi lapangan berpusat di Desa Sempu dan mencakup seluruh wilayah desa. Masyarakat turut dilibatkan untuk memberikan gambaran kondisi lapangan secara lebih realistis.

Setiap RT diwakili sekitar 10 warga, dengan total sekitar 200 warga masyarakat yang berpartisipasi dalam gladi lapangan.

Pelibatan warga tersebut melengkapi simulasi evakuasi yang sebelumnya dijelaskan pemerintah daerah, termasuk keberadaan 21 titik kumpul di Desa Sempu. Dari titik-titik tersebut, warga nantinya diarahkan menuju lokasi aman menggunakan armada evakuasi sesuai skenario.

Dadik menyebut, keberadaan warga dalam simulasi menjadi bagian penting karena kesiapsiagaan bencana tidak hanya bergantung pada petugas.

“Yang kita siapkan bukan hanya petugasnya, tetapi juga masyarakat. Harapannya warga memahami alur evakuasi dan tahu apa yang harus dilakukan ketika mendapatkan informasi kebencanaan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan simulasi, seluruh koordinator unit diwajibkan memegang alat komunikasi dan siap menerima instruksi. Informasi awal dalam skenario berasal dari PPGA, kemudian diteruskan kepada Kepala Pelaksana BPBD untuk selanjutnya diberikan kepada unit-unit operasi.

Catur menilai keberhasilan penanganan bencana sangat dipengaruhi oleh kecepatan setiap unsur merespons informasi.

“Kecepatan kegiatan sangat bergantung pada seberapa cepat masing-masing unit merespons setelah mendapatkan instruksi dari komandan operasi. Karena itu komunikasi dan koordinasi menjadi kunci,” ungkapnya.

Reporter: Roni Ardiansyah
Editor: Rizky Rusdiyanto