KEDIRI, Tandaglobal.news — Desa Gedangsewu di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memiliki kisah asal-usul nama yang diwariskan secara turun-temurun. Nama desa ini dipercaya berkaitan dengan legenda pisang yang menghasilkan buah dalam jumlah sangat banyak.
Dalam bahasa Jawa, gedang berarti pisang, sedangkan sewu berarti seribu. Cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa dahulu terdapat pohon pisang dengan buah yang luar biasa banyak hingga menarik perhatian warga di kawasan selatan Pare.
Menurut tradisi lisan yang dicatat dalam sejumlah penelitian, legenda tersebut juga berkaitan dengan mimpi seorang tokoh atau tetua desa tentang pisang yang berbuah sangat banyak. Meski masih dikenal masyarakat, cerita itu belum dapat dipastikan sebagai catatan sejarah tertulis.
Selain legenda penamaan desa, terdapat catatan mengenai awal pembukaan wilayah Gedangsewu. Data Sistem Informasi Nama Rupabumi milik Badan Informasi Geospasial (BIG), yang bersumber dari inventarisasi Pemerintah Kabupaten Kediri tahun 2018, menyebutkan bahwa pada masa Perang Diponegoro, seorang pengikut Diponegoro melarikan diri ke wilayah selatan Pare.
Tokoh tersebut kemudian membuka lahan untuk tempat tinggal dan bercocok tanam di sekitar aliran sungai. Namun, identitasnya serta rincian waktu pembukaan lahan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip atau sumber sejarah lokal.
Seiring perkembangannya, Desa Gedangsewu terbagi menjadi lima dusun, yakni Gedangsewu Wetan atau Krajan, Gedangsewu Kulon, Talun, Duluran, dan Parerejo. Pembagian tersebut disebutkan dalam penelitian mengenai kondisi sosial desa.
Catatan BIG juga menjelaskan bahwa sekitar tahun 2000, wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai Dusun Gedangsewu dibagi menjadi dua dusun, yaitu Gedangsewu Wetan dan Gedangsewu Kulon. Pemisahan ini menjadi bagian dari perkembangan pembagian wilayah setempat.
Dalam perjalanan sejarahnya, Gedangsewu mengalami perkembangan sosial dan ekonomi. Desa ini tidak hanya dikenal melalui legenda asal-usul namanya, tetapi juga melalui berbagai kegiatan usaha masyarakat.
Salah satunya adalah usaha pembuatan sepatu dan sandal di Dusun Parerejo. Produk buatan pelaku usaha setempat dilaporkan telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Jawa. Selain itu, terdapat usaha makanan tradisional seperti jenang yang turut menggerakkan ekonomi warga.
Di Dusun Duluran, Sumber Wungu menjadi bagian dari kehidupan sosial dan tradisi masyarakat. Kawasan sumber air tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan desa, termasuk tradisi bersih desa atau kirab budaya yang dilaksanakan pada bulan Sura menurut keterangan warga setempat.
Legenda penamaan, catatan pembukaan wilayah, perkembangan dusun, serta aktivitas ekonomi memperlihatkan perjalanan Desa Gedangsewu hingga kini. Kisah pisang berbuah seribu tetap menjadi bagian dari warisan cerita lokal, sementara sejumlah catatan sejarah awal desa masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.



















Tinggalkan Balasan