
KEDIRI, Tandaglobal.news — Menghadapi musim kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kediri menggelar salat istisqa atau salat meminta hujan. Kegiatan yang digelar atas instruksi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah serta menindaklanjuti imbauan Gubernur Jawa Timur tersebut dipusatkan di halaman Perguruan Muhammadiyah Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.
Pelaksanaan salat istisqa ini diikuti ratusan jemaah yang terdiri atas siswa-siswi tingkat TK, SD, SMP, SMK, jemaah umum, unsur Pimpinan Cabang Aisyiyah, serta warga sekitar.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kediri, Ikhwan Nurhadi, saat diwawancarai pada Kamis (22/10/2026), menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi PP Muhammadiyah agar warga Muhammadiyah di berbagai daerah melaksanakan salat istisqa di lapangan terbuka.
“Agenda hari ini adalah menyikapi dari instruksi dari PP Muhammadiyah bahwa seluruh warga Muhammadiyah khususnya di mana pun berada hari ini diminta untuk melaksanakan salat di tanah lapang di daerah masing-masing. Selain itu permohonan dan instruksi dari PP Muhammadiyah,” ujar Ikhwan.
Ia menjelaskan, salat istisqa tersebut bertujuan memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun.
Hal itu menyusul kondisi sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan air bersih serta dampak karhutla yang dirasakan masyarakat, khususnya di Kalimantan.
“Yang pasti tujuannya adalah eh hari ini kita berharap bahwa hujan segera turun karena kita tahu di banyak tempat dan mayoritas tempat kita kekurangan air lebih khusus saudara-saudara kita yang ada di Kalimantan yang kena karhutla itu sangat membutuhkan sekali turunnya hujan, nggih,” ungkapnya.
Ikhwan menambahkan, pelibatan siswa-siswi dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi dunia pendidikan.
Menurutnya, salat istisqa secara massal merupakan pengalaman yang relatif jarang dialami generasi muda saat ini.
“Salah satu sisi adalah karena ini di dunia pendidikan otomatis ini bisa jadi pengalaman pertama baik untuk siswa maupun juga untuk guru. Karena selama ini eh saya sendiri di usia yang mungkin sudah 48 tahun itu baru dua kali melaksanakan salat istisqa. Ya, jadi sudah lama dan ini pengalaman yang luar biasa bagi khususnya anak-anak eh siswa-siswi di lingkungan Muhammadiyah,” terangnya.
Selain menggelar doa bersama, Muhammadiyah juga melakukan upaya kemanusiaan melalui lembaga otonomnya, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Ikhwan menyebut MDMC telah terlibat dalam penanganan dampak karhutla di Kalimantan, termasuk menyediakan bantuan oksigen.
“Jadi, Muhammadiyah khusus di karhutla itu satu, Muhammadiyah punya MDMC. Jadi, Muhammadiyah Disaster Management itu yang mana berjibaku di Kalimantan Utara sekaligus di Palangkaraya. Kita juga punya eh apa? stan khusus untuk bantuan oksigen. Jadi, Muhammadiyah sudah eh dari awal sampai kira-kira 2 bulan 3 bulan ini selalu continue dari berbagai daerah untuk membantu teman-teman yang kemudian berjuang di Kalimantan sana,” papar Ikhwan.



















Tinggalkan Balasan