

MALANG, Tandaglobal.news — Tradisi bukan sekadar pertunjukan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik slametan, baritan, pencak silat, hingga berbagai kesenian daerah, terdapat sejarah dan nilai budaya yang perlu dipahami agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Kamis (22/10/2026). Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan pentas kesenian yang menampilkan bantengan, pencak silat, hingga tari Kenaren.
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Malang, Abdul Aziz, mengatakan pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan.
Generasi muda juga perlu mengenali asal-usul tradisi, memahami sejarahnya, serta mendokumentasikan warisan budaya Nusantara.
“Lesbumi tidak hanya berbicara mengenai pertunjukan seni. Kami juga berupaya menelusuri sejarah, mengkaji tradisi, serta mendokumentasikan kekayaan budaya agar masyarakat memahami asal-usulnya,” jelas Abdul Aziz.
Menurutnya, ruang kerja Lesbumi mencakup berbagai bidang, mulai dari seni pertunjukan, perfilman, kajian manuskrip dan naskah lama, hingga penelitian sejarah candi serta benda-benda peninggalan masa lampau.
Lesbumi didirikan pada 1962 oleh tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU), di antaranya KH Wahab Hasbullah dan KH Wahid Hasyim.
Organisasi ini menjadi wadah bagi seniman dan budayawan Nahdliyin untuk mengembangkan seni dan budaya yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan Ahlussunnah wal Jamaah.
Melalui jaringan organisasi NU dari tingkat pusat hingga daerah, Lesbumi berupaya mendampingi kelompok seni dan budaya, termasuk komunitas yang tumbuh di lingkungan masyarakat.
Abdul Aziz menilai tradisi seperti slametan, baritan, pencak silat, dan berbagai kesenian daerah perlu dirangkul serta didokumentasikan.
Upaya tersebut penting agar pengetahuan kebudayaan tidak terputus akibat perubahan zaman maupun berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap tradisi lokal.
“Pelaku seni dan budaya perlu dirangkul. Tradisi yang masih hidup di masyarakat harus didokumentasikan dan dikenalkan kembali, sehingga generasi muda tidak hanya melihat pertunjukannya, tetapi juga memahami nilai dan sejarah di baliknya,” katanya.
Selain kesenian, perhatian Lesbumi juga mencakup kajian manuskrip, turost atau khazanah keilmuan klasik, serta benda-benda bersejarah seperti keris dan tombak.
Lesbumi juga menaruh perhatian pada pelestarian lingkungan dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana penyebaran pengetahuan kebudayaan kepada masyarakat luas.
Dalam kaitannya dengan kajian keagamaan, Abdul Aziz menjelaskan bahwa penelusuran asal-usul tradisi merupakan bagian dari peran Lesbumi.
Sementara itu, persoalan hukum agama dapat dikaji bersama Lembaga Bahtsul Masail (LBM) sesuai bidangnya.
Ia juga mendorong kalangan milenial dan Gen Z untuk memperkuat literasi kebudayaan melalui forum kajian sejarah lokal.
Sejarah pencak silat dan tradisi Nusantara, menurutnya, dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami perjalanan masyarakat serta kontribusi kebudayaan terhadap kehidupan berbangsa.



















Tinggalkan Balasan