KEDIRI, Tandaglobal.news — Kepala arca Buddha Bodhisattva menjadi salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung Museum Sri Aji Joyoboyo, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Ditempatkan di bagian tengah museum, koleksi tersebut menyimpan jejak penemuan arkeologis yang berkaitan dengan kawasan Candi Adan-Adan.

Ari, edukator Museum Sri Aji Joyoboyo, menjelaskan bahwa kepala arca tersebut ditemukan pada 2019 saat penelitian di sekitar Candi Adan-Adan, Kabupaten Kediri. Hingga kini, bagian tubuh arca itu belum ditemukan sehingga koleksi yang dipamerkan hanya berupa bagian kepala.

“Ada yang menjadi masterpiece, kepala Buddha Bodhisattva ini yang pertama kali ditemukan di sekitar Candi Adan-Adan. Kita temukan tahun 2019 waktu penelitian di sana,” ujar Ari saat ditemui di Museum Sri Aji Joyoboyo, Kamis (15/10/2026).

Meski tidak utuh, kepala arca Bodhisattva tersebut menjadi salah satu koleksi penting yang diperkenalkan kepada pengunjung.

Penempatannya di bagian tengah ruangan menjadikan koleksi ini sebagai salah satu titik perhatian saat pengunjung menjelajahi museum.

Keberadaan arca tersebut memberikan gambaran mengenai peninggalan kebudayaan masa lalu yang ditemukan di wilayah Kabupaten Kediri. Melalui koleksi ini, pengunjung dapat mengenal hasil temuan arkeologis sekaligus memahami pentingnya pelestarian benda bersejarah.

Museum Sri Aji Joyoboyo menyimpan beragam koleksi peninggalan sejarah, terutama arca bercorak Hindu-Buddha. Sejumlah koleksi berasal dari temuan di wilayah Kabupaten Kediri dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan sejarah kepada masyarakat.

Selain kepala arca Bodhisattva, museum juga memiliki koleksi arca Catur Muka yang dijelaskan Ari sebagai salah satu koleksi unggulan.

Arca tersebut menarik perhatian karena menampilkan sosok Dewa Siwa dengan empat wajah, berbeda dari gambaran Catur Muka yang umumnya dikaitkan dengan Dewa Brahma.

“Catur Muka ini jadi masterpiece kedua, bisa dibilang langka juga di Indonesia. Biasanya Catur Muka identik dengan Brahma, tetapi di sini yang ditemukan adalah Dewa Siwa,” tambah Ari.

Koleksi museum tidak hanya berupa arca. Pengunjung juga dapat melihat pipisan, yakni benda yang digunakan untuk menghaluskan berbagai bahan, seperti ramuan obat, bahan makanan, hingga pigmen merah atau oker yang berkaitan dengan kebutuhan ritual.

Beragam peninggalan tersebut memperlihatkan bahwa koleksi museum tidak sekadar memiliki nilai visual, tetapi juga menyimpan informasi mengenai kehidupan dan kebudayaan masyarakat pada masa lalu.

Melalui penyimpanan dan pengenalan koleksi, Museum Sri Aji Joyoboyo menjadi ruang pembelajaran sejarah bagi masyarakat. Kepala arca Bodhisattva yang ditemukan di sekitar Candi Adan-Adan menjadi pengingat bahwa peninggalan arkeologis di Kabupaten Kediri masih menyimpan cerita yang perlu diteliti, dijaga, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.