Tandaglobal.news MALANG – Di tengah hamparan perkebunan tebu yang membentang di wilayah selatan Kabupaten Malang, berdiri sebuah industri gula yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa selama lebih dari satu abad. Pabrik Gula (PG) Krebet Baru yang berlokasi di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, bukan sekadar tempat mengolah tebu menjadi gula. Pabrik ini merupakan bagian penting dari perkembangan industri gula nasional yang telah melewati masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, nasionalisasi perusahaan asing, hingga era modernisasi industri pangan Indonesia.

Dengan usia operasional yang telah melampaui 100 tahun, PG Krebet Baru kini dikenal sebagai salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia. Berada di bawah pengelolaan PT PG Rajawali I, anak perusahaan ID FOOD, pabrik ini memiliki kapasitas giling yang sangat besar dan menjadi tulang punggung produksi gula nasional sekaligus mitra bagi ribuan petani tebu di wilayah Malang dan sekitarnya.

Sejarah PG Krebet bermula pada 1906, ketika pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah pabrik gula di kawasan Bululawang. Pada awal abad ke-20, Pulau Jawa merupakan salah satu pusat produksi gula terbesar di dunia. Tingginya permintaan gula dari pasar Eropa mendorong pemerintah kolonial membangun berbagai pabrik gula di Jawa Timur yang memiliki tanah vulkanik subur, sumber air melimpah, serta jaringan transportasi yang memadai.

Wilayah Malang dipilih karena kondisi geografisnya sangat mendukung budidaya tebu. Tanah yang subur, iklim tropis, serta ketersediaan tenaga kerja menjadikan daerah ini sebagai salah satu sentra perkebunan tebu yang berkembang pesat.

Tidak lama setelah beroperasi, kepemilikan PG Krebet berpindah kepada Oei Tiong Ham Concern (OTHC), konglomerasi milik pengusaha terkenal Oei Tiong Ham yang saat itu merupakan salah satu perusahaan perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Di bawah pengelolaan OTHC, pabrik mengalami perkembangan pesat melalui peningkatan kapasitas produksi, perbaikan fasilitas, serta perluasan kerja sama dengan petani tebu.

Pada masa itu, industri gula menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi pemerintah kolonial. Gula hasil produksi PG Krebet bersama pabrik-pabrik lain di Jawa diekspor ke berbagai negara di Eropa maupun Asia.

Perjalanan panjang PG Krebet tidak selalu berjalan mulus. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, hampir seluruh industri gula mengalami penurunan produksi akibat perubahan kebijakan ekonomi perang. Banyak mesin tidak lagi mendapatkan perawatan maksimal, sementara sebagian lahan tebu dialihkan untuk tanaman pangan yang dianggap lebih penting bagi kebutuhan militer.

Kondisi semakin berat ketika Indonesia memasuki masa Revolusi Kemerdekaan. Pada tahun 1947, wilayah Malang menjadi salah satu daerah yang dilanda pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dan tentara Belanda.

Dalam situasi perang tersebut, bangunan pabrik beserta mesin-mesin produksi mengalami kerusakan yang sangat parah. Aktivitas penggilingan tebu praktis berhenti. Ribuan petani kehilangan tempat untuk mengolah hasil panennya sehingga banyak yang beralih memproduksi gula merah secara tradisional demi mempertahankan mata pencaharian mereka.

Kerusakan pabrik juga berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Lapangan pekerjaan berkurang drastis, aktivitas perdagangan menurun, dan roda ekonomi kawasan Bululawang ikut melemah.

Setelah kondisi keamanan mulai membaik, muncul dorongan kuat dari para petani tebu agar pabrik segera dibangun kembali. Pemerintah menyadari bahwa keberadaan pabrik gula memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi pedesaan sekaligus menjaga produksi gula nasional.

Sekitar 1953–1954, dilakukan rehabilitasi besar-besaran terhadap bekas bangunan pabrik yang rusak. Pembangunan kembali tersebut merupakan hasil kerja sama antara Oei Tiong Ham Concern dengan Bank Industri Negara (BIN).

Setelah proses rehabilitasi selesai, pabrik mulai beroperasi kembali dengan nama Pabrik Gula Krebet Baru. Penambahan kata “Baru” menjadi simbol dimulainya babak baru setelah kehancuran akibat perang.

Beroperasinya kembali pabrik disambut antusias oleh masyarakat. Ribuan petani kembali menanam tebu, sementara masyarakat sekitar memperoleh kesempatan kerja di berbagai sektor, mulai dari pengangkutan tebu, pengoperasian mesin, administrasi, hingga perdagangan.

Perubahan besar kembali terjadi pada awal dekade 1960-an. Pemerintah Indonesia menjalankan kebijakan nasionalisasi terhadap berbagai perusahaan asing yang masih beroperasi di Indonesia.

Pada 1961, seluruh aset milik Oei Tiong Ham Concern, termasuk PG Krebet Baru, resmi diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat penguasaan negara terhadap sektor-sektor strategis nasional.

Sejak saat itu, PG Krebet Baru berubah status menjadi perusahaan milik negara dan mulai dikelola oleh badan usaha pemerintah. Kebijakan ini membuka jalan bagi berbagai program modernisasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta kapasitas produksi.

Memasuki akhir 1960-an hingga dekade 1980-an, pemerintah melakukan investasi besar untuk memperbarui mesin-mesin produksi dan memperluas kapasitas giling.

Pada 1968, kapasitas penggilingan mencapai sekitar 1.600 ton tebu per hari (TCD). Enam tahun kemudian, tepatnya 1974, kapasitas meningkat menjadi 2.000 TCD.

Pertumbuhan produksi tebu yang terus meningkat mendorong pembangunan unit pabrik baru pada 1976, yang kemudian dikenal sebagai PG Krebet Baru II. Sementara itu, unit lama tetap beroperasi sebagai PG Krebet Baru I.

Keberadaan dua unit produksi memungkinkan peningkatan kapasitas secara signifikan. Modernisasi kembali dilakukan pada 1982, sehingga kapasitas PG Krebet Baru I meningkat menjadi sekitar 2.800 TCD, sedangkan PG Krebet Baru II mencapai sekitar 3.600 TCD.

Program peningkatan kapasitas terus berlanjut hingga era 2000-an. Berbagai mesin diperbarui menggunakan teknologi yang lebih efisien sehingga total kapasitas giling kedua unit mencapai sekitar 12.000 ton tebu per hari, menjadikan PG Krebet Baru sebagai salah satu pabrik gula BUMN dengan kapasitas terbesar di Indonesia.

Perubahan struktur perusahaan kembali dilakukan pada 1996. Pemerintah menggabungkan PT Pabrik Gula Krebet Baru dengan PT Pabrik Gula Rejo Agung Baru di Madiun.

Penggabungan tersebut melahirkan PT PG Rajawali I, perusahaan yang hingga kini mengelola kedua pabrik gula tersebut.

Saat ini PT PG Rajawali I menjadi bagian dari ID FOOD, holding BUMN pangan yang bertugas memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pengelolaan berbagai komoditas strategis, termasuk gula.

Keberadaan PG Krebet Baru tidak hanya menghasilkan gula, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Malang Raya.

Ribuan petani tebu menjalin kemitraan dengan pabrik untuk memasok bahan baku setiap musim giling. Selain itu, ribuan tenaga kerja terserap baik sebagai karyawan tetap maupun pekerja musiman selama masa panen dan penggilingan.

Industri pendukung seperti transportasi, bengkel mesin, penyedia pupuk, jasa angkut, hingga pelaku usaha kecil di sekitar kawasan pabrik juga memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi yang tercipta.

Selain menghasilkan Gula Kristal Putih (GKP) untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, PG Krebet Baru juga memanfaatkan produk samping proses produksi. Ampas tebu (bagasse) digunakan sebagai bahan bakar ketel uap untuk menghasilkan energi, tetes (molasses) menjadi bahan baku industri makanan, minuman, dan bioetanol, sedangkan blotong dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi lahan pertanian.

Di tengah tantangan industri gula nasional, seperti perubahan iklim, fluktuasi produksi tebu, meningkatnya kebutuhan konsumsi gula, serta persaingan dengan gula impor, PG Krebet Baru terus melakukan berbagai langkah pembenahan.

Modernisasi peralatan, peningkatan efisiensi energi, digitalisasi proses produksi, penguatan kemitraan dengan petani, hingga pengembangan varietas tebu berproduktivitas tinggi menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga keberlanjutan industri gula nasional.

Dengan pengalaman lebih dari satu abad, PG Krebet Baru tidak hanya menjadi simbol kejayaan industri gula Indonesia, tetapi juga menjadi bukti bahwa sebuah industri mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman, mulai dari masa kolonial, perang kemerdekaan, nasionalisasi, hingga era industri modern. Hingga kini, pabrik tersebut tetap memegang peranan penting sebagai salah satu penopang produksi gula nasional sekaligus penggerak utama perekonomian masyarakat di Kabupaten Malang dan sekitarnya.