JAKARTA, Tandaglobal.news — Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, mendesak negara-negara ASEAN memberikan tekanan diplomatik dan finansial kepada Indonesia untuk mengatasi kabut asap lintas negara yang kembali melanda Asia Tenggara.

Desakan itu disampaikan Syed Saddiq dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia pada Selasa (13/10/2026), di tengah memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebar ke negara tetangga.

Menurut laporan Media Indonesia, Syed Saddiq mengusulkan agar negara-negara ASEAN mempertimbangkan protes diplomatik bersama serta langkah ekonomi terhadap perusahaan yang terbukti terlibat dalam pembakaran lahan.

Ia juga mendorong pemanfaatan tekanan konsumen untuk meningkatkan pertanggungjawaban pihak-pihak yang menyebabkan kebakaran dan pencemaran udara lintas batas.

Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia telah mengganggu aktivitas masyarakat. Memburuknya kualitas udara bahkan mendorong penutupan sekolah di beberapa wilayah sebagai langkah perlindungan terhadap kesehatan siswa.

Persoalan ini kembali menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang asapnya dapat terbawa angin melintasi batas negara. Selain mengurangi jarak pandang, pencemaran udara akibat asap kebakaran berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan masalah pernapasan.

Krisis kabut asap lintas negara bukan persoalan baru di Asia Tenggara. Kebakaran hutan dan lahan, termasuk di kawasan gambut, berulang kali menjadi sumber pencemaran udara regional ketika kondisi cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran.

Di tingkat pemerintahan, Malaysia juga berencana mengangkat persoalan kabut asap lintas batas dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 di Manila pada November 2026.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan, menyatakan persoalan tersebut memerlukan perhatian khusus karena kabut asap belum tercakup dalam mekanisme ASEAN yang digunakan untuk menangani bencana alam.

Pemerintah Malaysia berharap pembahasan di tingkat regional dapat menghasilkan mekanisme yang lebih efektif untuk menangani persoalan tersebut dan memperkuat kerja sama antarnegara.

Di sisi lain, Mohamad Hasan mengakui Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam upaya pemadaman kebakaran. Jarak pandang yang buruk, keterbatasan pasokan air, serta kebakaran di wilayah pedalaman dan lahan gambut menjadi sejumlah kendala dalam penanganan di lapangan.

Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia telah mengerahkan puluhan ribu personel untuk menangani kebakaran hutan dan lahan.

Desakan dari parlemen Malaysia dan rencana pembahasan di tingkat ASEAN menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap persoalan kabut asap lintas negara.

Penanganan masalah tersebut membutuhkan upaya pemadaman yang efektif, pencegahan pembakaran lahan, pengawasan terhadap perusahaan yang melanggar aturan, serta kerja sama lintas negara.

Pertanggungjawaban terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran juga menjadi salah satu isu yang disorot dalam desakan tersebut.

Melalui mekanisme regional, negara-negara ASEAN diharapkan dapat memperkuat koordinasi untuk mencegah terulangnya krisis kabut asap dan mengurangi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, serta aktivitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara.