Sulton mengatakan terdapat sejumlah rumah yang air sumurnya disebut mulai berbau dan tidak dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
“Air, terutama daerah utara, karena limbah lindi mengalir ke utara. Daerah sana sudah berbau. Beberapa rumah sudah tidak bisa dikonsumsi,” ujarnya.
Warga juga meminta adanya perhatian terhadap aspek kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar TPA.
Mereka berharap pemerintah tidak hanya memberikan kompensasi, tetapi juga memastikan dampak lingkungan dan kesehatan akibat aktivitas TPA ditangani secara serius.
Irsyad Rosidi, warga Desa Sekoto, mengatakan masyarakat menginginkan kompensasi dalam bentuk uang serta perhatian terhadap kesehatan warga.
Ia menyebut selama ini masyarakat lebih banyak menerima kompensasi berupa beras dengan jumlah yang berubah dari waktu ke waktu.
“Maunya masyarakat sini jangan cuma beras saja. Maunya kompensasi uang, terus kesehatan juga diperhatikan,” kata Irsyad.
Ia juga mengingat kembali sejumlah upaya pengolahan sampah menjadi biogas yang pernah dilakukan di kawasan tersebut.
Namun, menurutnya, program itu hanya berjalan beberapa bulan sebelum akhirnya berhenti.
Dalam pertemuan terakhir bersama pemerintah daerah, warga menyampaikan tiga persoalan tersebut.




















Tinggalkan Balasan