KEDIRI, Tandaglobal.news Maraknya pelaksanaan karnaval di Kabupaten Kediri yang menggunakan sound horeg mendapat perhatian dari Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Imam Mubarok atau yang akrab disapa Gus Barok, menilai karnaval semestinya tidak hanya menjadi ajang keramaian, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan menghidupkan kebudayaan.

Menurut Gus Barok, penggunaan sound horeg pada dasarnya dapat ditempatkan sebagai bagian dari perkembangan hiburan masyarakat.

Namun, persoalan muncul ketika kekuatan suara justru menjadi daya tarik utama hingga menggeser unsur seni, kreativitas, identitas budaya, serta pesan yang hendak disampaikan dalam sebuah karnaval.

“Sound horeg sebenarnya bisa ditempatkan sebagai bagian dari perkembangan hiburan masyarakat. Yang menjadi persoalan adalah ketika kekuatan suara justru menjadi pusat pertunjukan, sementara identitas budaya, kreativitas, seni, dan pesan yang ingin disampaikan malah hilang,” ujar Gus Barok.

Ia juga mengingatkan agar pelaksanaan karnaval tetap memperhatikan aturan yang telah dibuat Pemerintah Kabupaten Kediri, khususnya terkait penggunaan sound horeg.

Menurutnya, aturan tersebut harus menjadi pedoman bagi masyarakat maupun penyelenggara kegiatan.

“Pemkab Kediri juga telah membuat aturan terkait sound horeg, ini harus ditaati,” tegasnya.

Selain persoalan penggunaan sound system, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri turut menyoroti sejumlah pertunjukan karnaval yang menampilkan kostum maupun gerakan yang dinilai kurang sesuai dengan kepantasan di ruang publik.

Menurutnya, karnaval umumnya digelar di ruang publik dan disaksikan berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan keluarga.

Karena itu, kebebasan berekspresi tetap perlu berjalan beriringan dengan etika dan kepantasan.

“Apalagi karnaval dilaksanakan di ruang publik, ditonton anak-anak, keluarga, dan berbagai lapisan masyarakat. Karena itu tetap perlu ada kepantasan dalam kostum, gerak, maupun bentuk pertunjukan. Kebebasan berekspresi tetap penting, tetapi ruang publik juga mempunyai etika,” jelasnya.