
Selain kompensasi, warga juga menyoroti persoalan limbah cair atau lindi dari kawasan TPA.
Rozak menyebut aliran limbah menuju wilayah utara Desa Sekoto masih terlihat kotor. Bahkan, menurut dia, ikan tidak dapat hidup di aliran tersebut.
Keluhan serupa disampaikan Sulton Rosidin, warga Dusun Genuk Matu.
Ia menyebut terdapat tiga tuntutan utama warga, yakni pengelolaan sampah, perbaikan jalan, dan kompensasi.
“Pengolahan sampah yang menumpuk tidak habis-habis, semakin tinggi, efek limbahnya luar biasa, bau juga luar biasa dan sudah terjadi bertahun-tahun,” kata Sulton.
Untuk persoalan jalan, warga mengapresiasi adanya perbaikan yang saat ini berjalan.
Namun, mereka masih menunggu kepastian apakah perbaikan tersebut akan ditingkatkan menjadi pengaspalan hotmix sesuai tuntutan warga.
Sementara untuk kompensasi, warga menilai pemberian 15 kilogram beras per tahun belum mencerminkan dampak yang mereka tanggung.
Bahkan, dalam pertemuan dengan pemerintah daerah, warga mengusulkan kompensasi sebesar Rp5 juta per kepala keluarga (KK).
“Yang bergerak mengajukan saat ini sekitar 200 KK. Ini masih lingkup satu dusun,” ungkap Sulton.
Ia menyebut wilayah yang berada di sekitar TPA setidaknya mencakup beberapa dusun yang dinilai terdampak.
Jarak permukiman terdekat dengan kawasan TPA, menurutnya, hanya sekitar 140 meter.
Selain persoalan bau, warga juga mengeluhkan kualitas air di wilayah utara.




















Tinggalkan Balasan