Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni, seperti jaranan, ludruk, dan campursari, sebelum ditutup dengan Kirap Budaya.
Dalam Kirap Budaya, masyarakat mengarak kemuncak Candi Dorok, yakni batu bagian puncak candi yang ditemukan pada 1996, menuju lokasi candi.
Kegiatan tersebut juga melibatkan pelajar tingkat SD dan SMP.
Pelibatan anak-anak sekolah dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga memahami peninggalan yang berada di lingkungan mereka sendiri.
“Anak-anak harus dikenalkan sejak sekarang. Kalau mereka ikut kirab dan melihat langsung peninggalannya, harapannya mereka merasa memiliki dan nantinya ikut menjaga,” tuturnya.
Untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya, Anton bersama masyarakat juga membentuk PUSAKA (Paguyuban Masyarakat Daha Kadiri).
Paguyuban tersebut telah memiliki legalitas resmi dari Kementerian Hukum dan HAM serta terbuka bagi masyarakat di seluruh Desa Manggis.
PUSAKA tidak hanya bergerak dalam bidang kebudayaan.
Paguyuban tersebut juga menjalankan kegiatan sosial, salah satunya pembagian sembako secara rutin setiap bulan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Anton berharap upaya pelestarian peninggalan sejarah di Dusun Dorok dapat terus berlanjut dan mendapat perhatian lebih luas.
Menurutnya, keberadaan situs serta benda-benda bersejarah tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus identitas budaya bagi masyarakat Kediri.
“Yang kami lakukan bukan mengoleksi. Kami hanya berusaha merawat dan melestarikan supaya peninggalan ini tidak hilang dan generasi berikutnya masih bisa melihat serta mengenal sejarah daerahnya,” pungkasnya.




















Tinggalkan Balasan