
KEDIRI, Tandaglobal.news — Kepedulian terhadap peninggalan sejarah mendorong Anton Sujarwo untuk merawat sejumlah benda bersejarah yang ditemukan di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kabupaten Kediri. Bagi Anton, aktivitas tersebut bukan sekadar mengoleksi benda kuno, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi mendatang.
Sejumlah peninggalan yang berada dalam pemeliharaannya antara lain arca Nandiswara, Ganesha, Durga Mahisasura Mahardini, Agastya, Sapta Resi, kemuncak candi, serta Yoni.
Benda-benda tersebut menjadi bagian dari jejak sejarah yang masih dapat ditemukan di kawasan Dusun Dorok.
Anton mengatakan, kepeduliannya terhadap peninggalan sejarah mulai tumbuh sekitar 2007.
Saat itu, ia menemukan sebuah Yoni yang kondisinya tidak terawat dan mengalami kerusakan di area tegalan atau persawahan Dusun Dorok.
“Awalnya sekitar 2007 saya menemukan Yoni yang kondisinya sudah tidak terawat. Saya merasa eman-eman kalau peninggalan masa lalu dibiarkan begitu saja,” ujar Anton, Rabu (12/8/2026).
Sejak saat itu, Anton mulai memberikan perhatian terhadap berbagai peninggalan sejarah yang ditemukan di wilayah tersebut.
Ia menilai benda-benda tersebut bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi warisan leluhur yang dapat menjadi penghubung antargenerasi.
Menurutnya, pelestarian budaya juga tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan latar belakang masyarakat.
Warisan sejarah yang ada di suatu daerah merupakan bagian dari perjalanan masyarakat yang perlu dijaga bersama.
“Budaya itu warisan leluhur dan bisa menjadi jembatan untuk menyatukan masyarakat. Tidak perlu melihat perbedaan agama atau kelompok, karena ini bagian dari sejarah bersama,” katanya.
Di kawasan Dusun Dorok sendiri terdapat sekitar lima titik yang diduga berkaitan dengan struktur candi.
Dari sejumlah titik tersebut, kondisi yang relatif masih terlihat utuh terdapat pada Candi Dorok.
Selain struktur bangunan, sejumlah arca juga ditemukan di kawasan tersebut.
Setidaknya terdapat lima arca dalam kondisi utuh dan dua arca lainnya dalam kondisi tidak lengkap atau mengalami kerusakan.
Penemuan sejumlah arca tersebut berlangsung sekitar 2020 hingga 2021.
Benda-benda itu ditemukan ketika dilakukan penggalian tanah uruk.
Setelah ditemukan, keberadaannya kemudian didata oleh pemerintah desa bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Karena Desa Manggis belum memiliki museum resmi sebagai tempat penyimpanan, sejumlah peninggalan tersebut kemudian dititipkan kepada Anton untuk dirawat dan dijaga.
Dalam perawatannya, Anton membersihkan arca secara rutin.
Pembersihan dilakukan kurang lebih sebulan sekali menggunakan kuas agar debu dan kotoran yang menempel tidak mengganggu kondisi permukaan benda.
Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan dengan merawat benda peninggalan sejarah.
Anton bersama masyarakat juga berupaya mengenalkan sejarah lokal melalui berbagai kegiatan kebudayaan.
Salah satunya tradisi 1 Suro yang digelar masyarakat dengan membawa tumpeng dari rumah masing-masing menuju Punden Dorok.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni, seperti jaranan, ludruk, dan campursari, sebelum ditutup dengan Kirap Budaya.
Dalam Kirap Budaya, masyarakat mengarak kemuncak Candi Dorok, yakni batu bagian puncak candi yang ditemukan pada 1996, menuju lokasi candi.
Kegiatan tersebut juga melibatkan pelajar tingkat SD dan SMP.
Pelibatan anak-anak sekolah dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga memahami peninggalan yang berada di lingkungan mereka sendiri.
“Anak-anak harus dikenalkan sejak sekarang. Kalau mereka ikut kirab dan melihat langsung peninggalannya, harapannya mereka merasa memiliki dan nantinya ikut menjaga,” tuturnya.
Untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya, Anton bersama masyarakat juga membentuk PUSAKA (Paguyuban Masyarakat Daha Kadiri).
Paguyuban tersebut telah memiliki legalitas resmi dari Kementerian Hukum dan HAM serta terbuka bagi masyarakat di seluruh Desa Manggis.
PUSAKA tidak hanya bergerak dalam bidang kebudayaan.
Paguyuban tersebut juga menjalankan kegiatan sosial, salah satunya pembagian sembako secara rutin setiap bulan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Anton berharap upaya pelestarian peninggalan sejarah di Dusun Dorok dapat terus berlanjut dan mendapat perhatian lebih luas.
Menurutnya, keberadaan situs serta benda-benda bersejarah tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus identitas budaya bagi masyarakat Kediri.
“Yang kami lakukan bukan mengoleksi. Kami hanya berusaha merawat dan melestarikan supaya peninggalan ini tidak hilang dan generasi berikutnya masih bisa melihat serta mengenal sejarah daerahnya,” pungkasnya.




















Tinggalkan Balasan