“Budaya itu warisan leluhur dan bisa menjadi jembatan untuk menyatukan masyarakat. Tidak perlu melihat perbedaan agama atau kelompok, karena ini bagian dari sejarah bersama,” katanya.

Di kawasan Dusun Dorok sendiri terdapat sekitar lima titik yang diduga berkaitan dengan struktur candi.

Dari sejumlah titik tersebut, kondisi yang relatif masih terlihat utuh terdapat pada Candi Dorok.

Selain struktur bangunan, sejumlah arca juga ditemukan di kawasan tersebut.

Setidaknya terdapat lima arca dalam kondisi utuh dan dua arca lainnya dalam kondisi tidak lengkap atau mengalami kerusakan.

Penemuan sejumlah arca tersebut berlangsung sekitar 2020 hingga 2021.

Benda-benda itu ditemukan ketika dilakukan penggalian tanah uruk.

Setelah ditemukan, keberadaannya kemudian didata oleh pemerintah desa bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Karena Desa Manggis belum memiliki museum resmi sebagai tempat penyimpanan, sejumlah peninggalan tersebut kemudian dititipkan kepada Anton untuk dirawat dan dijaga.

Dalam perawatannya, Anton membersihkan arca secara rutin.

Pembersihan dilakukan kurang lebih sebulan sekali menggunakan kuas agar debu dan kotoran yang menempel tidak mengganggu kondisi permukaan benda.

Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan dengan merawat benda peninggalan sejarah.

Anton bersama masyarakat juga berupaya mengenalkan sejarah lokal melalui berbagai kegiatan kebudayaan.

Salah satunya tradisi 1 Suro yang digelar masyarakat dengan membawa tumpeng dari rumah masing-masing menuju Punden Dorok.