Di antaranya pisang raja, balon-balon, jajanan pasar, jenang, dawet, dan kolak.

Kelengkapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi sekaligus menjadi simbol ungkapan rasa syukur masyarakat.

Marsidi menjelaskan, Sedekah Bumi bukan sekadar menjadi hiburan, melainkan momentum bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur dan memanjatkan doa atas kehidupan yang telah dijalani selama setahun.

Yang paling penting adalah rasa syukur dan doa. Masyarakat berharap warga Dusun Nanas selalu seger waras, diberi keselamatan, rezeki yang lancar, dan dijauhkan dari segala rintangan,” jelasnya.

Tradisi tersebut dikelola melalui kepanitiaan yang melibatkan pamong desa, kepala dusun, serta masyarakat setempat.

Keterlibatan berbagai unsur itu menjadi wujud gotong royong sekaligus upaya menjaga agar tradisi tetap berjalan sesuai ketentuan yang diwariskan.

Bagi masyarakat Dusun Nanas, pelestarian Sedekah Bumi menjadi cara untuk menjaga hubungan sosial, mengenalkan budaya kepada generasi muda, sekaligus mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan para leluhur.