
Tandaglobal.news | KEDIRI – Tradisi Bersih Desa di Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri tidak hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian sejarah lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah yang masih dipercaya masyarakat berkaitan dengan sosok Gusti Pangeran Prabu Anom, yang menurut cerita leluhur memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah wilayah tersebut.
Ketua Paguyuban sekaligus juru kunci setempat, Gatot, menuturkan bahwa berdasarkan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, Gusti Pangeran Prabu Anom merupakan putra Gusti Pangeran Joyoboyo. Dalam kisah tersebut, ia diangkat menjadi seorang pangeran dan diperintahkan menimba ilmu kepada Eyang Doho sebagai bekal menjadi calon pemimpin.
“Pangeran Prabu Anom adalah putra Gusti Pangeran Joyoboyo yang ditugaskan mencari ilmu kepada Eyang Doho,” jelas Gatot saat ditemui di Desa Doko, Selasa (7/7/2026).
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dalam perjalanan tersebut Pangeran Prabu Anom dikawal oleh prajurit Segoro Sepapan bersama seorang sesepuh bernama Eyang Tunggul Wulung yang bertugas mengasuh sekaligus melindunginya. Kisah itu kemudian menjadi bagian dari tradisi lisan yang dikaitkan dengan asal-usul sejumlah situs yang dikeramatkan masyarakat di Desa Doko.
Gatot juga mengisahkan sosok Eyang Doho yang dalam cerita leluhur disebut pernah memimpin kawasan Kandangan Doho, Kediri. Ia menuturkan, setelah menyesali sebuah peristiwa yang menimpa ibunya, Eyang Doho memilih lengser dari kepemimpinannya. Kepemimpinan tersebut kemudian diteruskan oleh Eyang Doko yang dipercaya menetap dan menjaga wilayah tersebut.
“Cerita ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari sejarah leluhur masyarakat Doko,” katanya.
Di salah satu lokasi yang hingga kini masih dianggap sakral oleh warga, Gatot menyebut kawasan tersebut pada masa lalu dikenal memiliki aura mistis yang kuat. Seiring perkembangan zaman, kawasan itu kemudian dibangun dan dimanfaatkan sebagai lokasi sebuah pabrik pengolahan minyak nabati. Menurut cerita yang diterimanya, pembangunan tersebut dipimpin oleh seseorang asal Pati yang sebelumnya tidak menyangka akan dipercaya memimpin proyek tersebut.
Sebagai juru kunci, Gatot mengaku selalu mengedepankan kedisiplinan dalam menjaga kawasan yang dianggap sakral. Meski demikian, ia menegaskan tempat tersebut terbuka bagi siapa saja selama datang dengan niat baik, menjaga sopan santun, serta tidak melakukan tindakan yang merusak maupun bertentangan dengan norma.
“Tempat sakral ini milik bersama. Siapa pun boleh datang selama menjaga sopan santun dan tidak berbuat yang merusak,” ujarnya.
Ia juga menuturkan tradisi kirab di Desa Doko telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda. Menurut cerita yang diterimanya, tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada sejarah desa dan para pendahulu, termasuk Mbah Demang yang dikenal sebagai lurah pertama di wilayah tersebut.
Namun, Gatot menilai pelaksanaan kirab saat ini tidak lagi semeriah masa lalu. Selain jumlah peserta yang menurun, keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya skala kegiatan dibandingkan beberapa dekade silam.
“Dulu pesertanya jauh lebih banyak. Sekarang kondisinya menyesuaikan kemampuan yang ada, tetapi tradisinya tetap kami pertahankan,” pungkasnya.
Jurnalis: Roni Ardiansyah




















Tinggalkan Balasan