RENGAT, Tandaglobal.news — PT Tirta Sari Surya merupakan salah satu perusahaan pengolahan karet yang memiliki perjalanan panjang di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen crumb rubber atau karet remah dengan produk utama Standard Indonesian Rubber (SIR) 10 dan SIR 20.
Sejarah perusahaan berawal dari usaha bernama CV Tirta Sari pada 1972. Pada masa awal, kegiatan perusahaan bergerak di bidang rubber remilling atau pengolahan ulang karet. Perubahan besar terjadi pada 1993 ketika Kirana Megatara Group mengambil alih PT Tirta Sari Surya dan mengembangkannya menjadi pabrik crumb rubber yang berorientasi pada pasar ekspor.
Berawal dari CV Tirta Sari
Akar usaha PT Tirta Sari Surya dapat ditelusuri hingga 1972 ketika perusahaan masih menggunakan nama CV Tirta Sari. Pada periode awal tersebut, kegiatan utamanya adalah rubber remilling, yakni mengolah kembali bahan karet agar menghasilkan produk dengan nilai jual.
Sementara itu, penelitian Universitas Islam Riau mencatat PT Tirta Sari Surya didirikan berdasarkan akta notaris pada 16 Mei 1972 dan meneruskan usaha CV Tirta Sari yang berlokasi di Jalan Pasir Jaya Km 6, Rengat. Perbedaan cara pencatatan tersebut membuat kronologi 1972 perlu dipahami dengan hati-hati. Namun, kedua sumber sama-sama menunjukkan bahwa akar usaha Tirta Sari berasal dari tahun tersebut.
Berlokasi di Rengat
Pabrik PT Tirta Sari Surya berada di kawasan Pasir Jaya, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Penelitian UIN Sultan Syarif Kasim Riau mencatat alamat perusahaan di Jalan Pasir Jaya, Desa Kuantan Babu, Rengat, Indragiri Hulu.
Lokasi tersebut memiliki keterkaitan dengan ketersediaan bahan baku karena Indragiri Hulu merupakan salah satu wilayah penghasil karet di Riau. Sebagai perusahaan pengolahan karet, keberadaan pabrik menjadi bagian dari rantai yang menghubungkan hasil perkebunan dengan industri pengolahan.
Tonggak Perubahan pada 1993
Tahun 1993 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan PT Tirta Sari Surya. Berdasarkan keterangan resmi Kirana Megatara, pada tahun tersebut Kirana Megatara Group mengambil alih PT Tirta Sari Surya. Setelah proses tersebut, orientasi bisnis perusahaan mengalami perubahan.
Sebelumnya, kegiatan perusahaan berkaitan dengan rubber remilling. Setelah berada dalam kelompok Kirana Megatara, perusahaan dikembangkan menjadi pabrik pengolahan crumb rubber. Sumber akademik juga mencatat bahwa berdasarkan RUPS pada 8 Februari 1993 terjadi perubahan pengurus perusahaan dan manajemen kemudian diambil alih Grup Kirana Megatara Jakarta.
Perubahan tersebut menjadi titik balik karena kegiatan perusahaan kemudian terhubung lebih kuat dengan industri karet alam nasional dan pasar internasional.
Memproduksi SIR 10 dan SIR 20
Setelah 1993, PT Tirta Sari Surya berfokus pada pengolahan karet menjadi crumb rubber. Produk yang dihasilkan berupa Standard Indonesian Rubber atau SIR, terutama SIR 10 dan SIR 20.
Keterangan resmi Kirana Megatara menyebut pabrik PT Tirta Sari Surya menggunakan kode perdagangan SCE. Pabrik tersebut memanfaatkan pasokan karet alam dari wilayah Riau untuk menghasilkan SIR 10 dan SIR 20. Produk tersebut menjadi bahan baku bagi berbagai industri karet, termasuk industri ban.
Dengan demikian, posisi PT Tirta Sari Surya berada dalam rantai industri sebagai pengolah bahan baku karet alam menjadi bahan baku industri, bukan sebagai produsen barang konsumen akhir.
Mengandalkan Bahan Baku Karet Riau
Perubahan menjadi pabrik crumb rubber membuat ketersediaan bahan baku menjadi bagian penting dalam kegiatan operasional perusahaan. Kirana Megatara menjelaskan bahwa PT Tirta Sari Surya memanfaatkan sumber karet alam yang berasal dari wilayah Riau.
Rantai pengolahan tersebut menghubungkan petani atau pedagang karet dengan industri pengolahan. Karet yang dikumpulkan kemudian diproses menjadi crumb rubber SIR 10 dan SIR 20 sebelum masuk ke industri pengguna dan pasar ekspor.
Berkembang Menjadi Pabrik Skala Besar
Dalam perkembangannya, PT Tirta Sari Surya menjadi pabrik dengan kapasitas produksi yang cukup besar. Penelitian terhadap perusahaan mencatat fasilitas pabrik berdiri di atas lahan sekitar 4,5 hektare dengan sekitar 370 pekerja dan kapasitas produksi rata-rata sekitar 4.500 ton per bulan pada saat penelitian dilakukan.
Angka produksi bulanan tersebut apabila dihitung selama satu tahun setara sekitar 54.000 ton. Namun, angka tersebut merupakan hasil annualisasi dari data bulanan dalam penelitian dan bukan angka kapasitas resmi terbaru perusahaan. Sementara itu, sumber lain mengenai industri karet Riau dengan data Gapkindo 2013 mencatat kapasitas sekitar 45.000 ton per tahun.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan periode dan jenis data, apakah merupakan kapasitas terpasang, kapasitas produksi atau produksi aktual.
Berorientasi pada Pasar Ekspor
PT Tirta Sari Surya memiliki orientasi produksi yang berkaitan dengan pasar internasional. Penelitian Universitas Islam Riau mencatat hasil produksi perusahaan ditargetkan 100 persen untuk ekspor dan sebagian besar produknya dibeli oleh industri ban.
Kondisi tersebut menempatkan pabrik Rengat dalam rantai perdagangan karet alam. Karet yang berasal dari perkebunan di Riau tidak hanya menjadi komoditas lokal, tetapi setelah diolah menjadi SIR 10 dan SIR 20 dapat masuk ke rantai pasok industri manufaktur di luar negeri.
Tercatat dalam Direktori Industri
Keberadaan PT Tirta Sari Surya juga tercatat dalam sejumlah direktori industri pemerintah. Direktori Industri Pengolahan 2012 mencatat perusahaan sebagai penghasil SIR 20 dengan jumlah tenaga kerja yang tercatat mencapai 332 orang. Alamat pabrik tercantum di Jalan Pasir Jaya Km 6, Rengat, Indragiri Hulu, Riau.
Data tersebut menunjukkan bahwa pada awal 2010-an PT Tirta Sari Surya telah menjadi salah satu unit industri pengolahan karet dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 300 orang.
Memenuhi Standar Mutu Produk
PT Tirta Sari Surya juga tercatat dalam daftar perusahaan yang memperoleh sertifikasi untuk produk karet spesifikasi teknis. Data sertifikasi mencatat perusahaan di Indragiri Hulu, Riau, dalam ruang lingkup Karet Spesifikasi Teknis dengan acuan SNI 06-1903-2000/SNI 1903:2011.
Pencatatan tersebut berkaitan dengan kebutuhan industri crumb rubber terhadap konsistensi mutu, terutama karena produk ditujukan bagi industri manufaktur dan pasar ekspor.
Menjadi Bagian dari Kirana Megatara
Setelah pengambilalihan pada 1993, PT Tirta Sari Surya menjadi salah satu unit usaha dalam kelompok Kirana Megatara. Perkembangan tersebut menempatkan perusahaan sebagai bagian dari jaringan pabrik pengolahan karet di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam laporan tahunan Kirana Megatara, PT Tirta Sari Surya tercatat sebagai entitas anak dengan kegiatan usaha pabrik crumb rubber. Perusahaan berdomisili di Riau dan mulai beroperasi secara komersial pada 1993 dalam struktur grup. Laporan tersebut juga mencatat kepemilikan 100 persen atas PT Tirta Sari Surya.
Posisi dalam Industri Karet Riau
Riau merupakan salah satu provinsi penting dalam produksi karet alam Indonesia. Meskipun perkebunan kelapa sawit kemudian berkembang lebih pesat, karet tetap menjadi komoditas penting bagi masyarakat di sejumlah wilayah Riau, termasuk Indragiri Hulu.
Dalam kondisi tersebut, PT Tirta Sari Surya memiliki posisi sebagai salah satu industri yang mengolah hasil perkebunan karet menjadi produk dengan nilai tambah. Data sektor industri Riau juga mencatat perusahaan tersebut sebagai salah satu pabrik crumb rubber di provinsi tersebut.
Masih Tercatat dalam Struktur Korporasi Modern
Dalam laporan tahunan Kirana Megatara 2024, PT Tirta Sari Surya masih tercatat sebagai salah satu entitas anak dalam Unit Bisnis Pengolahan Karet Remah. Laporan tersebut mencatat perusahaan berdomisili di Riau dengan kepemilikan 100 persen. Total aset sebelum eliminasi yang tercatat pada 2024 mencapai sekitar Rp316,767 miliar.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa PT Tirta Sari Surya tidak hanya memiliki sejarah panjang, tetapi juga masih tercantum dalam struktur korporasi Kirana Megatara berdasarkan laporan perusahaan terbaru yang tersedia. Sumber resmi terbaru yang ditemukan juga menunjukkan perusahaan masih menjadi bagian dari bisnis pengolahan crumb rubber Kirana Megatara.
Lebih dari Lima Dekade Perjalanan
Jika dihitung dari akar usaha pada 1972 hingga 2026, perjalanan Tirta Sari Surya telah berlangsung lebih dari lima dekade. Perjalanan tersebut dapat dilihat melalui beberapa fase, mulai dari kegiatan rubber remilling, perubahan kepemilikan dan pengembangan menjadi pabrik crumb rubber, hingga menjadi bagian dari jaringan industri karet nasional di bawah Kirana Megatara.
Kronologi perusahaan mencatat 1972 sebagai awal usaha CV Tirta Sari, 16 Mei 1972 sebagai tanggal pendirian PT berdasarkan sumber akademik, serta 8 Februari 1993 sebagai tanggal RUPS yang mencatat perubahan pengurus. Pada 1993, Kirana Megatara Group mengambil alih perusahaan dan mengembangkan bisnisnya menjadi pengolahan crumb rubber.
Perjalanan berikutnya mencakup pencatatan 332 tenaga kerja pada 2012, kapasitas sekitar 45.000 ton per tahun berdasarkan data industri 2013, serta keberadaan perusahaan sebagai entitas anak Kirana Megatara dengan kepemilikan 100 persen pada 2024. Berdasarkan laporan korporasi terbaru yang tersedia dalam sumber, perusahaan masih tercatat dalam unit bisnis pengolahan crumb rubber Kirana Megatara pada 2026.
Jejak Panjang Industri Karet Rengat
PT Tirta Sari Surya merupakan salah satu perusahaan pengolahan karet yang memiliki sejarah panjang di Indragiri Hulu, Riau. Akar usahanya bermula dari CV Tirta Sari pada 1972 yang pada awalnya bergerak dalam kegiatan rubber remilling.
Perubahan terbesar terjadi pada 1993 ketika perusahaan diambil alih Kirana Megatara Group. Setelah itu, PT Tirta Sari Surya dikembangkan menjadi pabrik crumb rubber yang memproduksi SIR 10 dan SIR 20 dengan bahan baku utama dari wilayah Riau.
Perusahaan kemudian berkembang menjadi industri dengan ratusan pekerja dan kapasitas produksi puluhan ribu ton per tahun. Produksinya terutama diarahkan kepada industri pengguna karet dan pasar ekspor. Laporan tahunan Kirana Megatara 2024 masih mencatat PT Tirta Sari Surya sebagai entitas anak yang 100 persen dimiliki dan bergerak dalam bidang pengolahan crumb rubber.
Dengan perjalanan lebih dari setengah abad, PT Tirta Sari Surya menjadi bagian dari sejarah industri karet Riau, mulai dari usaha remilling pada 1970-an, berkembang menjadi pabrik crumb rubber berorientasi ekspor, hingga menjadi bagian dari jaringan industri karet nasional di bawah Kirana Megatara.




















Tinggalkan Balasan