“Hanya dengan menggunakan satu tools teknologi yang namanya digital signature, kita secara keseluruhan Dukcapil di seluruh Indonesia bisa menghemat 300 lebih miliar uang negara,” ungkapnya.
Menurutnya, inovasi tersebut memungkinkan dokumen kependudukan dicetak menggunakan kertas putih biasa tanpa memerlukan kertas pengaman khusus sehingga mampu menghemat anggaran negara secara signifikan.
Mensuseno juga menjelaskan tiga strategi Dukcapil dalam mewujudkan pelayanan administrasi kependudukan yang inklusif.
Strategi tersebut meliputi layanan konvensional melalui kantor Dukcapil di 514 kabupaten dan kota.
Selain itu, Dukcapil menjalankan layanan proaktif atau jemput bola yang menjangkau masyarakat melalui berbagai kegiatan dan Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM).
Strategi lainnya ialah layanan keterhubungan atau linkage services yang mengintegrasikan data kependudukan dengan sistem instansi lain.
“Kita berharap no one let behind untuk mendapatkan layanan kependudukan,” tegasnya.
Ia menilai Indonesia memiliki keunggulan dibanding banyak negara karena menggabungkan fungsi pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil dalam satu institusi.
“Salah satu kelebihan kita ketimbang mereka adalah karena kita punya dua fungsi ini yang digabung menjadi satu,” katanya.
Dalam sesi jajak pendapat bersama peserta webinar, Mensuseno mengingatkan bahwa identitas menjadi bagian penting dalam hampir seluruh aktivitas masyarakat, mulai dari membeli tiket pesawat, membuka rekening bank, hingga menerima bantuan sosial.
“Identitas itu hampir dibutuhkan pada hampir semua aktivitas kehidupan kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan proses autentikasi identitas dilakukan melalui tiga pendekatan.
Pendekatan tersebut meliputi what you have berupa dokumen fisik, what you know berupa kata sandi atau PIN, dan who you are berupa data biometrik.




















Tinggalkan Balasan