
SULAWESI UTARA, TANDA GLOBAL NEWS — Gempa bumi tektonik dahsyat dengan magnitudo M 7,8 mengguncang wilayah lepas pantai Sarangani, Filipina Selatan, pada Senin pagi (8/6/2026) pukul 06.37 WIB. Guncangan hebat ini tidak hanya melumpuhkan wilayah Mindanao, tetapi juga memicu kepanikan luar biasa hingga ke wilayah pesisir utara Sulawesi Utara, Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami sebelum akhirnya resmi dicabut pada Senin sore setelah situasi dinyatakan aman.
Berikut adalah laporan mendalam mengenai kronologi, dampak kerusakan, serta situasi terkini di lapangan.
1. Parameter Gempa dan Penyebab Tektonik
Berdasarkan data resmi BMKG dan United States Geological Survey (USGS), gempa kuat ini memiliki parameter yang sangat merusak karena sifatnya yang dangkal:
- Waktu Kejadian: Senin, 8 Juni 2026, pukul 06.37.11 WIB (atau 07.37 waktu setempat).
- Episenter: Koordinat 5,34° LU dan 125,51° BT. Berpusat di laut pada jarak 244 km arah Barat Laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara.
- Kedalaman: 47 kilometer (Dangkal).
- Mekanisme Sumber: Hasil analisis menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng laut Filipina dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Hingga Senin siang, tercatat telah terjadi 138 gempa susulan (aftershocks) dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,7, yang terus membuat warga di area terdampak enggan kembali ke dalam rumah.
2. Situasi di Filipina: 31 Tewas, Longsor Timbun Pemukiman
Dampak paling mematikan dilaporkan terjadi di Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Kota General Santos dan Kabupaten Glan di Provinsi Sarangani menjadi wilayah terkoyak akibat guncangan berintensitas tinggi.
- Korban Jiwa: Otoritas kebencanaan Filipina mengonfirmasi sedikitnya 31 orang meninggal dunia, belasan orang hilang, dan 134 lainnya mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan.
- Tragedi Longsor di Glan: Sebanyak 14 korban tewas ditemukan di wilayah perbukitan Glan. Rumah-rumah di kaki gunung tertimbun material tanah longsor yang runtuh sesaat setelah gempa utama terjadi.
- Kerusakan Infrastruktur: Di pusat kota General Santos, jaringan listrik padam total. Berbagai fasilitas publik dan area komersial, termasuk gerai siap saji Jollibee dan pusat perbelanjaan lokal, dilaporkan hancur dan roboh secara masif.
3. Dampak di Indonesia: Puluhan Bangunan di Sulut Rusak
Meski berpusat di wilayah Filipina, kedekatan geografis membuat guncangan terasa sangat kuat di wilayah Kepulauan Sangihe, Talaud, hingga Manado dengan skala intensitas IV-V MMI (benda-benda terpelanting, dinding berbunyi).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara melaporkan total 53 bangunan mengalami kerusakan bervariasi dari ringan hingga berat. Rincian sebaran kerusakan meliputi:
- Kabupaten Kepulauan Sangihe: 39 bangunan rusak (didominasi rumah warga dan tempat ibadah).
- Kabupaten Kepulauan Talaud: 13 bangunan rusak (termasuk fasilitas sekolah dan perkantoran).
- Kota Manado: 1 fasilitas umum mengalami retak struktur minor.
Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa dari wilayah Indonesia, namun beberapa warga dilaporkan mengalami luka ringan akibat panik saat menyelamatkan diri.
4. Ancaman Tsunami Berakhir
Sesaat setelah gempa, pemodelan BMKG sempat menunjukkan status Siaga dan Waspada untuk wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Di Filipina, alat deteksi mencatat adanya aktivitas tsunami kecil dengan kenaikan muka air laut tertinggi mencapai 1,4 meter di 6 pos pengamatan pesisir Mindanao.
Namun, setelah memantau perkembangan laut selama beberapa jam, air laut tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan ke arah daratan Indonesia.
Pernyataan Resmi BMKG: “Berdasarkan monitoring terkini, seluruh pemantauan muka air laut menunjukkan situasi telah kembali normal. Peringatan dini tsunami akibat gempa M 7,8 ini resmi dinyatakan berakhir pada pukul 15.30 WIB. Warga yang sempat mengungsi ke dataran tinggi diimbau bisa kembali ke rumah masing-masing dengan tetap waspada.”
5. Imbauan untuk Masyarakat
Pemerintah daerah bersama TNI/Polri saat ini tengah mendirikan posko darurat dan dapur umum di wilayah Kepulauan Sangihe dan Talaud untuk mengantisipasi warga yang rumahnya mengalami kerusakan struktural.
Masyarakat diminta untuk tidak mempercayai berita bohong (hoax) terkait potensi gempa susulan yang lebih besar dan selalu memantau kanal informasi resmi melalui aplikasi infoBMKG atau rilis berkala dari BPBD setempat.