
KEDIRI, Tandaglobal.news — Siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare mengembangkan berbagai inovasi produk berbahan tanaman dan bahan alami melalui program Project Based Learning (PJBL). Para siswa memanfaatkan potensi keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dan asrama untuk menghasilkan produk yang dapat menjawab permasalahan sehari-hari.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Dharma Wanita 1 Pare, Siti Fatimah, menjelaskan bahwa proyek tersebut berawal dari pembelajaran Biologi tentang keanekaragaman hayati.
Dalam pembelajaran itu, siswa mengamati tanaman yang jumlahnya mulai berkurang di lingkungan sekolah, tetapi masih memiliki manfaat.
Dari hasil pengamatan tersebut, siswa kemudian mengembangkan gagasan untuk memanfaatkan potensi tanaman menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
“Anak-anak kami ajak untuk melihat permasalahan yang ada di sekitar mereka. Dari situ, mereka belajar mencari solusi melalui inovasi, bukan sekadar membuat produk untuk memenuhi tugas sekolah,” ujar Siti Fatimah, Selasa (27/10/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan siswa adalah masker berbahan Centella. Gagasan tersebut muncul dari pemikiran siswa mengenai pemanfaatan bahan alami untuk membantu merawat kesehatan kulit di lingkungan sekolah yang memiliki aturan penggunaan produk kecantikan.
Selain itu, siswa mengembangkan minuman herbal instan berbahan jahe dan kencur.

Produk tersebut berawal dari pengamatan terhadap kondisi teman-teman di asrama yang mengalami gangguan kesehatan. Siswa kemudian merancang minuman herbal yang praktis, ekonomis, dan mudah diseduh kapan saja.
Siswa juga memanfaatkan kulit nanas menjadi produk olahan melalui inovasi yang mereka sebut TPJ. Gagasan tersebut muncul sebagai upaya mengurangi limbah bahan pangan sekaligus meningkatkan nilai guna bagian buah yang kerap terbuang.

Melalui berbagai inovasi tersebut, siswa mempelajari proses pengolahan bahan, pengembangan produk, serta peluang pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Siti Fatimah mengatakan program PJBL merupakan kegiatan pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan secara berkala dengan pendampingan Putera Sampoerna Foundation.
Program ini menekankan proses berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah dan menyusun solusi.
Menurutnya, guru berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan proses pengembangan gagasan. Siswa tetap memiliki ruang untuk menentukan masalah yang ingin diselesaikan dan merancang inovasinya sendiri.
“Yang kami tekankan bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana anak-anak berpikir, menemukan peluang, dan mengembangkan ide untuk menjawab persoalan yang mereka temui,” jelasnya.
Proses pembelajaran tersebut juga diperluas melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Siswa terjun langsung untuk berdiskusi, memperkenalkan produk inovasi, serta mempelajari peluang pengembangan potensi lokal bersama masyarakat.
Dalam kegiatan itu, siswa berupaya menunjukkan bahwa bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti kulit nanas, dapat menjadi bahan pengembangan produk bernilai tambah apabila diolah secara tepat.
Sekolah berharap pengalaman tersebut dapat membekali siswa dengan keterampilan memecahkan masalah, mengembangkan kreativitas, dan membangun kemandirian.
Kemampuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Program inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya sekolah mendorong siswa menghasilkan karya yang berangkat dari kebutuhan nyata, sekaligus memahami manfaat ilmu pengetahuan bagi lingkungan dan masyarakat.


















Tinggalkan Balasan