JAKARTA, Tandaglobal.news — Bahan herbal telah lama digunakan masyarakat sebagai bagian dari tradisi dan gaya hidup. Jahe, kunyit, madu, bawang putih, seledri hingga lidah buaya kerap dimanfaatkan untuk membantu menjaga kondisi tubuh atau meredakan keluhan ringan.

Namun, bahan alami tidak selalu aman untuk semua orang. Efektivitas herbal juga dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis bahan, bentuk produk, dosis, serta kondisi kesehatan seseorang. WHO menyebut masih terdapat kesenjangan bukti ilmiah mengenai keamanan dan efektivitas berbagai pengobatan tradisional.

Sejumlah bahan yang sering digunakan secara tradisional antara lain jahe untuk mual, muntah dan keluhan pencernaan ringan, serta kunyit dan jahe untuk nyeri atau peradangan ringan.

Madu juga kerap digunakan untuk membantu meredakan batuk atau rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Teh hangat dan jahe digunakan secara tradisional ketika hidung terasa tidak nyaman.

Untuk diare ringan, pisang dan cairan yang cukup dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Sementara itu, jahe dan peppermint sering dimanfaatkan untuk membantu mengurangi kembung.

Lidah buaya juga banyak digunakan untuk iritasi kulit ringan dan perawatan kulit. Minyak kelapa turut dimanfaatkan dalam perawatan kulit, sedangkan oat, sayuran dan buah dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.

Jahe merupakan salah satu bahan yang memiliki cukup banyak penelitian, terutama terkait mual dan muntah. Namun, konsumsi jahe pada sebagian orang dapat menyebabkan keluhan seperti rasa tidak nyaman di perut, mulas atau diare.

Kunyit juga banyak digunakan dalam makanan dan produk herbal. Meski demikian, kunyit dalam bentuk suplemen dapat menimbulkan efek samping seperti gangguan lambung atau refluks. Beberapa formulasi kurkumin dengan peningkatan penyerapan bahkan telah dikaitkan dengan laporan gangguan hati.

Jangan Mengganti Antibiotik dengan Herbal

Salah satu hal penting dalam penggunaan bahan herbal adalah tidak menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis. Amoksisilin, misalnya, merupakan antibiotik sehingga tidak tepat dimasukkan ke dalam daftar alternatif herbal.

Herbal seperti bawang putih atau madu juga tidak boleh diposisikan sebagai pengganti antibiotik untuk menangani infeksi bakteri.

Begitu pula keluhan seperti asma, tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol tinggi membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Herbal tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan obat yang telah diresepkan tenaga kesehatan.

Pastikan Produk Herbal Aman

BPOM mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada produk herbal dengan klaim berlebihan. Dalam pengawasan periode Mei-Juni 2026, BPOM menemukan 31 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan ilegal, dengan sebagian besar ditemukan mengandung bahan kimia obat.

Masyarakat juga disarankan memperhatikan Kemasan, Label, Izin Edar dan Kedaluwarsa atau Cek KLIK sebelum membeli produk obat bahan alam.

Herbal dapat menjadi bagian dari tradisi dan gaya hidup sehat, tetapi penggunaannya tetap perlu mempertimbangkan bukti ilmiah, keamanan dan kondisi kesehatan masing-masing. Alami tidak otomatis berarti bebas risiko.