
KEDIRI, Tandaglobal.news — Menumbuhkan kebiasaan membaca di kalangan siswa sekolah dasar menjadi tantangan di era digital. Guru perlu menghadirkan metode pembelajaran yang menarik agar anak tidak hanya mau membaca, tetapi juga mampu memahami isi bacaan dan membangun minat literasi secara mandiri.
Guru SDN Pare 2, Linda Wahyuni, mengatakan kebiasaan membaca siswa saat ini berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Jika dahulu buku menjadi salah satu sumber informasi utama, kini anak-anak lebih mudah mengakses informasi melalui perangkat digital.
“Kalau dulu anak-anak mendapatkan informasi lebih banyak dari buku. Sekarang dari gadget dan sebagainya. Perbedaannya terasa sekali,” ujar Linda, Senin (26/10/2026).
Untuk menarik minat siswa, Linda menerapkan kegiatan membaca bersama, mendongeng, dan menceritakan kembali isi buku di depan kelas.
Siswa juga mendapat giliran membawa buku dari rumah dan berbagi cerita dengan teman-temannya. Guru memberikan apresiasi untuk meningkatkan kepercayaan diri dan semangat mereka.
Menurutnya, tampilan buku turut memengaruhi ketertarikan anak. Buku bergambar, komik edukatif, dan ensiklopedia dinilai mampu memancing rasa ingin tahu siswa sehingga mereka terdorong untuk membaca.
“Buku literasi yang menarik itu sangat penting. Ketika anak melihat buku yang bagus dan membuat penasaran, mereka biasanya ingin membuka dan membacanya,” jelasnya.
Selain menggunakan buku, SDN Pare 2 memanfaatkan TV Smart untuk pembelajaran dan membiasakan kegiatan literasi sekitar 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Sekolah juga bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kediri melalui kunjungan bergiliran bagi siswa kelas 1 hingga kelas 6, termasuk kegiatan mendongeng.
Sementara itu, guru SDN Pare 4, Wedha, menilai kegiatan membaca perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa, terutama anak kelas awal yang masih belajar mengenali huruf dan merangkai kata.
Ia menggunakan metode bermain, seperti tebak kata, bernyanyi untuk menghafalkan huruf, serta kartu huruf.
Anak-anak juga diberi kesempatan membaca sambil mewarnai atau duduk santai di pojok baca agar tidak cepat bosan.
“Anak-anak itu kadang mau, kadang tidak. Jadi, guru harus mendampingi dulu dan membuat mereka siap belajar. Kami berusaha supaya kegiatan membaca tidak membuat mereka bosan,” ungkap Wedha.
Wedha menambahkan, kemampuan membaca setiap anak berbeda.
Ada yang sudah bisa mengenali kata secara langsung, tetapi ada pula yang masih membutuhkan proses mengeja. Karena itu, materi bacaan disesuaikan dengan kemampuan siswa agar pembelajaran berlangsung bertahap.
Kedua guru tersebut menilai pembiasaan membaca di sekolah perlu dilanjutkan di rumah.
Dukungan orang tua dan ketersediaan bacaan yang menarik menjadi faktor penting agar kegiatan literasi tidak sekadar menjadi rutinitas di kelas, tetapi berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari.
Dengan metode yang sesuai karakter anak dan dukungan lingkungan keluarga, guru berharap siswa semakin tertarik membaca serta mampu membangun motivasi literasi dari dalam dirinya sendiri.



















Tinggalkan Balasan