



KEDIRI, Tandaglobal.news — Ratusan benda yang diduga merupakan peninggalan masa lalu tersimpan di bagian belakang rumah Yuli (37), warga Desa Besowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Berbagai benda, mulai dari arca, batu berbentuk bata kuno, lumpang hingga gerabah, dikumpulkan dan dirawat secara mandiri agar tidak rusak maupun hilang.
Ketertarikan Yuli terhadap artefak dan ornamen Nusantara telah tumbuh sejak kecil. Namun, ia mulai aktif menelusuri dan mengumpulkan benda-benda tersebut secara mandiri sejak 2017. Dalam prosesnya, ia mengandalkan informasi dari warga sekitar serta penelusuran ke sejumlah lokasi yang diduga menyimpan peninggalan leluhur.
“Sejak kecil saya memang tertarik dengan benda-benda peninggalan leluhur. Mulai 2017, saya lebih aktif menelusuri dan mengumpulkannya agar benda-benda itu tetap terjaga,” ungkap Yuli, Senin (19/10/2026).
Koleksi yang berhasil dikumpulkan cukup beragam. Di antaranya lebih dari lima arca, sekitar 150 batu berbentuk kotak atau menyerupai bata merah, lumpang, lingga-yoni, pipisan, gandik, pecahan benda, uang koin kuno, hingga berbagai jenis gerabah.
Seluruh benda tersebut kini ditata di belakang rumahnya. Yuli meyakini masih terdapat peninggalan lain yang belum ditemukan atau masih terpendam di wilayah Desa Besowo. Meski demikian, usia, identitas, dan nilai sejarah masing-masing benda masih memerlukan penelitian lebih lanjut oleh pihak yang berkompeten.
Proses penelusuran hingga perawatan koleksi dilakukan Yuli bersama sejumlah rekannya secara mandiri. Ia mengaku menggunakan biaya pribadi untuk operasional pencarian serta membantu tenaga yang terlibat dalam penanganan temuan.
Bagi Yuli, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap peninggalan leluhur yang berpotensi memiliki nilai sejarah. Ia khawatir benda-benda itu rusak, terbuang, atau hilang apabila tidak mendapatkan perawatan yang memadai.
Yuli berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap temuan benda-benda tersebut. Menurutnya, pendataan dan kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui identitas serta nilai sejarahnya, sekaligus menentukan langkah pelestarian yang tepat.
Ia juga berencana mengembangkan museum mini mandiri di Desa Besowo. Melalui tempat tersebut, benda-benda yang telah dikumpulkan diharapkan dapat dirawat dan diperkenalkan kepada masyarakat dengan tetap mempertimbangkan keterkaitannya dengan wilayah asal.
“Harapan saya, benda-benda ini bisa tetap terjaga dan dikenal masyarakat. Saya ingin ada tempat khusus di Besowo agar peninggalan leluhur ini bisa dirawat dan dipelajari,” katanya.
Yuli menegaskan, benda-benda yang dikumpulkannya bukan untuk diperjualbelikan, melainkan untuk dijaga agar tidak hilang dan tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Keberadaan ratusan benda tersebut menjadi potensi awal untuk menelusuri jejak sejarah Desa Besowo. Pendataan, penelitian arkeologis, serta koordinasi dengan instansi yang menangani pelestarian cagar budaya diperlukan untuk memastikan identitas, usia, dan nilai sejarah setiap temuan, sekaligus menentukan bentuk perlindungan yang sesuai.



















Tinggalkan Balasan