BANDUNG, TandaGlobalNews — Perkebunan Teh Sedep merupakan salah satu kawasan perkebunan tua di wilayah selatan Bandung yang sejarahnya berhubungan erat dengan perkembangan industri teh Priangan sejak masa kolonial Belanda. Kini, Sedep menjadi bagian dari jaringan perkebunan teh PTPN di Jawa Barat dan tetap dikenal melalui aktivitas perkebunan serta fasilitas pengolahannya.
Nama Sedep telah muncul dalam arsip kolonial sejak awal abad ke-20. Pengelolaan perkebunan berada di bawah N.V. Cultuurmaatschappij Sedep Amsterdam, dengan kantor perwakilan di Hindia Belanda yang berkaitan dengan D.M. & C. Watering di Bandung. Dalam dokumen sejarah perkebunan, perusahaan tersebut disebut sebagai pemilik Kebun Teh Sedep.
Perkembangan pabrik di Sedep berlangsung secara bertahap. Arsip dan penelitian mengenai bangunan perkebunan mencatat keberadaan Pabrik Teh Sedep lama, sementara sebuah pabrik baru kemudian dibangun pada 1930. Sebuah prasasti yang masih terdokumentasi menyebut pembangunan Nieuwe Thee Fabriek, Sedep pada 1930, di bawah administratur A. Bertling dan berdasarkan rancangan biro teknik De Wit & Slotemaker di Bandung. Mesin-mesinnya antara lain dipasok oleh perusahaan teknik dari Surabaya dan Sukabumi.
Administratur A. Bertling sendiri memegang jabatan di Sedep sejak 1907. Pada 1932 dibuat prasasti untuk memperingati 25 tahun masa kerjanya sebagai administratur, menunjukkan betapa panjangnya kesinambungan pengelolaan perkebunan tersebut.
Keberadaan Pabrik Teh Sedep juga terekam dalam arsip foto pemerintah Indonesia. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat dokumentasi Pabrik Teh Sedep pada 1957, 1964, serta pembangunan pabrik pada 1965. Dokumentasi lain mencatat gudang, rak penyimpanan daun teh dan mesin pengolahan di pabrik tersebut pada dekade 1970-an.
Setelah Indonesia merdeka, sistem kepemilikan perkebunan berubah secara fundamental. Perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi dan berbagai kebun teh di Jawa Barat masuk ke dalam struktur perusahaan perkebunan negara. Sedep kemudian berkembang sebagai bagian dari jaringan perkebunan negara di Jawa Barat.
Dalam perkembangan PTPN modern, Sedep menjadi salah satu unit perkebunan teh di kawasan selatan Bandung. PTPN Group mencatat Sedep bersama sejumlah unit lain di kawasan Pangalengan/Kertasari, termasuk Kertamanah, Malabar, Pasirmalang, Purbawindu, Santosa dan Taloon.
Kawasan Sedep juga memiliki hubungan erat dengan Cibutarua. Di salah satu afdeling kebun tersebut berdiri Pabrik Teh Arumsari, sehingga Sedep pada perkembangannya memiliki lebih dari satu fasilitas pengolahan. Informasi mengenai kondisi perkebunan pada 2024 menyebut Pabrik Sedep dan Arumsari masih menjadi bagian dari kegiatan produksi teh.
Sejarah Sedep menunjukkan bahwa industri teh di kawasan Bandung Selatan tidak dibangun dalam waktu singkat. Perkebunan ini berkembang sejak masa perusahaan kolonial, melewati perubahan teknologi pabrik, nasionalisasi setelah kemerdekaan, hingga masuk dalam sistem perusahaan perkebunan negara.
Arsip-arsip lama mengenai Sedep memperlihatkan bahwa pabrik bukan sekadar bangunan produksi. Di dalamnya terdapat jejak perkembangan teknologi pengolahan teh, hubungan antara perkebunan dan tenaga kerja, serta perubahan ekonomi dari masa kolonial menuju Indonesia modern.
Dengan demikian, Pabrik Teh Sedep merupakan salah satu peninggalan penting sejarah industri teh Jawa Barat. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana kawasan perkebunan selatan Bandung menjadi bagian dari jaringan ekspor teh sejak masa kolonial dan tetap bertahan dalam struktur industri perkebunan Indonesia hingga sekarang.




















Tinggalkan Balasan