GARUT, TandaGlobalNews — Pabrik Teh Cisaruni merupakan salah satu fasilitas industri teh bersejarah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Berada di kawasan dataran tinggi Cikajang, Cisaruni memiliki sejarah yang berlapis karena kawasan perkebunannya mengalami perubahan pengelolaan sejak masa perusahaan Belanda hingga menjadi bagian dari PTPN.
Sejarah Cisaruni tidak dapat dipisahkan dari kawasan perkebunan Giriawas. Pada masa kolonial, perkebunan Giriawas berada di bawah perusahaan Belanda Fawatering dan Loeber. Setelah nasionalisasi, pemerintah Indonesia mengambil alih perkebunan tersebut dan melakukan penataan ulang wilayah perkebunan.
Pada 27 Desember 1957, dua perkebunan besar, yakni Cisaruni dan Giriawas, digabungkan. Perkebunan Giriawas sebelumnya mencakup tiga afdeling, yaitu Situayu, Cikembar dan Cisaruni Lama. Setelah penggabungan, terbentuk Kebun Cisaruni dengan empat afdeling: Cisaruni, Situayu, Jayasana dan Cikembar.
Penggabungan tersebut menjadi titik penting karena sejak saat itu Cisaruni berkembang sebagai satu kesatuan perkebunan negara. Pusat kegiatan kebun pada masa awal berada di Cisaruni Lama, Desa Cikandang, sementara kantor induknya berada di Margamulya, Kecamatan Cikajang.
Pabrik Cisaruni memiliki keistimewaan dari sisi usia bangunan. Kajian arkeologi mengenai bangunan perkebunan Jawa Barat mencatat Pabrik Teh Cisaruni Lama telah berdiri sejak 1829 dan berada pada ketinggian sekitar 1.490 meter di atas permukaan laut.
Catatan mengenai tahun 1829 perlu dibaca sebagai sejarah bangunan/pabrik Cisaruni Lama, bukan sebagai tahun berdirinya perusahaan modern PTPN VIII. Perbedaan antara sejarah bangunan kolonial dan sejarah badan usaha penting untuk menjaga ketepatan kronologi.
Bangunan lama Cisaruni menjadi salah satu contoh peninggalan industri perkebunan yang masih memiliki fungsi produksi. Kajian arkeologi mencatat bahwa pada saat penelitian dilakukan, bagian depan bangunan masih cukup baik dan tetap digunakan untuk kegiatan pengolahan teh hijau, sementara bagian belakang bangunan telah mengalami kerusakan.
Dalam perkembangan perusahaan perkebunan negara, Kebun Cisaruni akhirnya masuk dalam jaringan PTPN VIII. Kajian mengenai produksi teh Cisaruni menyebut kebun tersebut sebagai salah satu unit kebun PTPN VIII di Jawa Barat.
Perubahan teknologi kemudian ikut membentuk karakter produksi Cisaruni. Pabrik Cisaruni dikenal menghasilkan teh hitam Orthodox, sehingga proses pengolahan mencakup pelayuan, penggulungan, oksidasi/fermentasi, pengeringan, sortasi dan pengemasan.
Keberadaan pabrik di dataran tinggi Garut juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi geografis kawasan Cikajang. Lingkungan sejuk dan ketinggian menjadi salah satu faktor yang mendukung produksi pucuk teh berkualitas.
Sejarah Cisaruni memperlihatkan bahwa industri perkebunan dapat bertahan melalui perubahan kepemilikan dan teknologi. Dari perusahaan Belanda, nasionalisasi, penggabungan kebun pada 1957 hingga menjadi bagian dari PTPN, kawasan ini terus menjalankan fungsi sebagai pusat produksi teh.
Pabrik Cisaruni juga memiliki nilai sejarah arsitektur. Kajian bangunan perkebunan Jawa Barat menempatkannya sebagai salah satu contoh bangunan industri kolonial yang penting untuk didokumentasikan dan dilestarikan.
Dengan demikian, sejarah Pabrik Teh Cisaruni bukan hanya sejarah produksi teh Garut. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang perkebunan dataran tinggi Jawa Barat, sekaligus contoh bagaimana bangunan industri peninggalan masa kolonial masih memiliki hubungan dengan kegiatan ekonomi perkebunan Indonesia modern.




















Tinggalkan Balasan