PANGALENGAN, TandaGlobalNews Kertamanah merupakan salah satu nama penting dalam sejarah perkebunan teh Pangalengan, Kabupaten Bandung. Perkebunan ini berkembang dalam gelombang pembukaan perkebunan swasta di Priangan setelah pemerintah kolonial menerapkan kebijakan agraria yang membuka kesempatan lebih besar bagi modal swasta.

Sejarah Desa Pangalengan mencatat bahwa setelah Agrarische Wet 1870, modal asing Belanda masuk ke kawasan Pangalengan dan membuka perkebunan dengan hak erfpacht. Nama Kertamanah disebut bersama Malabar, Pasirmalang dan sejumlah perkebunan lainnya yang berkembang di wilayah tersebut.

Kertamanah kemudian berkembang sebagai perkebunan teh dataran tinggi. Dalam struktur PTPN Group, Kertamanah tercatat sebagai salah satu pabrik teh di kawasan Pangalengan. Katalog teh PTPN mencantumkan Kertamanah sebagai pabrik teh Orthodox bersama Malabar, Pasirmalang, Purbawindu, Santosa, Taloon dan Sedep.

Kertamanah memiliki areal perkebunan yang berada pada ketinggian sekitar 1.508 hingga 1.815 meter di atas permukaan laut. Data profil perkebunan mencatat areal Kertamanah dan Riunggunung sebagai bagian dari unit Kertamanah.

Pabrik Kertamanah memiliki sejarah yang setidaknya telah terdokumentasi sejak masa pergolakan setelah kemerdekaan. Catatan sejarah lokal menyebut bahwa pada 1949, pabrik dan perkebunan Kertamanah kembali terlihat aktif setelah melalui periode pergolakan. Ratusan orang disebut berkumpul di halaman pabrik, menunjukkan bahwa fasilitas tersebut telah menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat perkebunan.

Periode tersebut penting karena perkebunan teh Jawa Barat mengalami gangguan berat selama pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan. Setelah pengambilalihan oleh pemerintah Indonesia, perkebunan kemudian masuk dalam proses nasionalisasi dan reorganisasi perusahaan perkebunan negara.

Seiring perubahan struktur perusahaan perkebunan, Kertamanah kemudian menjadi bagian dari PTPN VIII. Dalam perkembangan terbaru, unit-unit perkebunan teh Pangalengan berada dalam struktur PTPN I Regional 2 setelah restrukturisasi holding perkebunan negara. PTPN I Regional 2 pada 2025 menyebut kawasan perkebunan teh selatan Bandung, termasuk Pangalengan, sebagai salah satu kawasan yang kembali didorong untuk meningkatkan kinerja bisnis teh.

Dari sisi teknologi, Pabrik Teh Kertamanah menggunakan sistem Orthodox. Proses pengolahannya mencakup penerimaan pucuk, pelayuan, penggulungan, oksidasi, pengeringan, sortasi dan pengemasan. Dokumentasi kegiatan industri menunjukkan fasilitas tersebut tetap digunakan untuk mengolah pucuk teh menjadi teh hitam.

Kertamanah juga mengalami diversifikasi kegiatan perkebunan. Selain teh, dalam beberapa periode kawasan perkebunan juga digunakan untuk pengembangan komoditas lain, termasuk kopi. Namun teh tetap menjadi identitas utama pabrik dan perkebunan tersebut.

Tidak seperti Sedep atau Cisaruni, sumber yang tersedia tidak cukup kuat untuk menetapkan satu tanggal pasti sebagai tahun pendirian Pabrik Teh Kertamanah. Karena itu, kronologi yang lebih aman adalah menempatkan Kertamanah sebagai bagian dari gelombang perkebunan Pangalengan yang berkembang sejak era kolonial dan kemudian mengalami reorganisasi menjadi perusahaan negara.

Sejarah Kertamanah memperlihatkan kesinambungan industri perkebunan di Pangalengan. Perkebunan yang tumbuh dalam sistem kolonial kemudian menjadi bagian dari perusahaan negara dan terus mempertahankan kegiatan pengolahan teh dengan teknologi Orthodox.

Hingga sekarang, Kertamanah tetap menjadi salah satu nama penting dalam peta industri teh Pangalengan dan menjadi bagian dari upaya mempertahankan produksi teh Jawa Barat di tengah perubahan industri perkebunan nasional.