PANGALENGAN, TandaGlobalNews — Nama Malabar telah lama melekat dengan sejarah perkebunan teh di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Perkebunan ini tidak dapat dipisahkan dari sosok Karel Albert Rudolf Bosscha, pengusaha dan administratur perkebunan yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan industri teh di Jawa Barat pada akhir abad ke-19.
Perkebunan Teh Malabar berdiri pada Agustus 1896. Bosscha datang ke kawasan Pangalengan untuk meneruskan usaha yang sebelumnya telah dirintis oleh sepupunya, R.E. Kerkhoven. Kawasan Pangalengan pada masa itu telah berkembang sebagai salah satu wilayah penting perkebunan teh di Priangan.
Pendirian Malabar berlangsung dalam konteks berkembangnya perkebunan swasta setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870. Melalui sistem hak erfpacht, pengusaha swasta dapat memperoleh hak guna atas tanah untuk jangka panjang.
Bosscha kemudian mengembangkan perkebunan Malabar secara bertahap. Antara 1901 hingga 1918, areal perkebunan diperluas melalui penyewaan sejumlah tanah persil di sekitar Pangalengan. Pada 1925, sebagian status tanah perkebunan berubah dari hak sewa menjadi eigendom atau hak milik.
Perkembangan perkebunan tersebut membutuhkan fasilitas pengolahan. Dalam sejarah Malabar terdapat dua pabrik yang berkaitan dengan perkembangan perkebunan Bosscha. Salah satunya kemudian dikenal sebagai Pabrik Teh Malabar, sementara fasilitas lainnya berkaitan dengan Pabrik Tanara.
Malabar berkembang sebagai perkebunan teh dataran tinggi. Tanaman teh yang dikembangkan termasuk varietas Assam yang berasal dari India. Lingkungan Pangalengan yang berada di kawasan pegunungan menjadi salah satu faktor yang mendukung kualitas tanaman teh.
Bosscha tidak hanya mengembangkan produksi teh. Ia juga membangun berbagai fasilitas penunjang perkebunan dan kehidupan pekerja. Pada 1901, misalnya, didirikan sekolah untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak pekerja dan masyarakat pribumi di sekitar perkebunan.
Perkebunan Malabar kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan teh penting di Pangalengan. Nama Bosscha semakin dikenal seiring kontribusinya dalam pengembangan industri perkebunan dan berbagai kegiatan sosial serta ilmu pengetahuan di Bandung dan Priangan.
Bosscha meninggal pada 1928. Setelah kepergiannya, perkebunan tetap beroperasi dan melewati berbagai perubahan pengelolaan sebagaimana perkebunan lain di Jawa Barat.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, banyak perkebunan mengalami perubahan pengelolaan dan produksi. Setelah kemerdekaan, perkebunan-perkebunan milik asing kemudian mengalami nasionalisasi.
Dalam perkembangan perusahaan perkebunan negara, Malabar akhirnya menjadi bagian dari jaringan perkebunan negara di Jawa Barat. PTPN VIII kemudian menjadi salah satu perusahaan yang mengelola berbagai perkebunan teh di Jawa Barat, termasuk kawasan Malabar.
Arsip Nasional Republik Indonesia juga mencatat keberadaan Pabrik Teh Malabar dalam dokumentasi fotografi sejarah Jawa Barat. Arsip tersebut menunjukkan bahwa kegiatan industri teh Malabar telah menjadi bagian dari lanskap perkebunan Jawa Barat sejak masa kolonial.
Perkebunan Malabar hingga kini tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Kawasan tersebut juga memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan perkembangan industri teh, kehidupan perkebunan kolonial dan tokoh K.A.R. Bosscha.
Sejarah Malabar pada akhirnya merupakan sejarah tentang perubahan. Dari perkebunan swasta yang berkembang pada akhir abad ke-19, menjadi salah satu pusat produksi teh Pangalengan, kemudian masuk dalam sistem perusahaan perkebunan negara, Malabar terus mempertahankan identitasnya sebagai kawasan teh bersejarah di Jawa Barat.
Lebih dari seabad setelah didirikan pada 1896, nama Malabar masih melekat pada hamparan perkebunan teh Pangalengan. Di balik lanskap hijaunya terdapat perjalanan panjang mengenai perkebunan, teknologi pengolahan, tenaga kerja, perubahan kepemilikan dan perkembangan ekonomi Jawa Barat.




















Tinggalkan Balasan