BANDUNG, TandaGlobalNews Pabrik Teh Rancabali merupakan salah satu fasilitas pengolahan teh yang memiliki sejarah panjang di kawasan Ciwidey-Rancabali, Kabupaten Bandung. Berbeda dengan sejumlah pabrik teh kolonial yang telah berdiri sejak abad ke-19, pabrik Rancabali yang dikenal sekarang justru dibangun setelah Indonesia merdeka.

Akar sejarah Kebun Rancabali dapat ditelusuri hingga 1870, ketika kawasan tersebut dikembangkan oleh H.I.L. Mij Tiederman dan Van Kerchan Netherland Indische Landbouw Maatschappij. Perkebunan ini menjadi cikal bakal kawasan Sperata-Sinumbra dan Rancasuni.

Perkembangan perkebunan tersebut berlangsung dalam konteks masuknya modal swasta Belanda setelah diberlakukannya Agrarische Wet 1870. Kawasan pegunungan Bandung Selatan menjadi salah satu wilayah yang menarik bagi perusahaan perkebunan karena kondisi tanah dan iklimnya sesuai untuk tanaman teh.

Setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi. Pada 1958, kawasan perkebunan Rancabali masuk ke dalam pengelolaan pemerintah Indonesia dan ditempatkan di PPN Baru Kesatuan Jawa Barat II. Pada 1963, pengelolaannya masuk PPN Aneka Tanaman VII dan kemudian pada 1971 berada di bawah PTP XII.

Tahap penting dalam sejarah pabrik terjadi pada 2 Mei 1974. Pada tanggal tersebut dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Pabrik Teh Rancabali oleh Direksi PTP XII. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari pengembangan industri teh di kawasan perkebunan Rancabali setelah perusahaan berada di bawah pengelolaan negara.

Kebun Rancabali secara resmi terbentuk pada 1975 melalui penggabungan Kebun Rancasuni dengan sebagian areal Kebun Sinumbra dan Rancabolang. Penggabungan tersebut membentuk unit perkebunan yang kemudian dikenal sebagai Kebun Rancabali.

Pabrik yang dibangun sejak 1974 kemudian selesai dan diresmikan pada 7 Juli 1976 oleh Presiden Soeharto. Sejak saat itu fasilitas tersebut mulai beroperasi sebagai pabrik pengolahan teh hitam.

Rancabali kemudian mengalami perkembangan teknologi. Pada 1985, Pabrik Teh Orthodox Rancasuni direnovasi dan diubah menjadi pabrik dengan sistem CTC atau Crushing, Tearing and Curling. Setelah perubahan tersebut, pabrik berganti nama menjadi Pabrik Teh CTC Walini dan mulai beroperasi pada 1986.

Perubahan ini penting karena sistem CTC menghasilkan partikel teh yang berbeda dengan metode Orthodox dan sangat sesuai untuk kebutuhan industri teh hitam modern, terutama teh yang dipasarkan dalam bentuk teh celup atau untuk kebutuhan pencampuran.

Pada 1996, terjadi restrukturisasi besar perusahaan perkebunan negara. PTP XI, PTP XII dan PTP XIII dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII. Sejak itu, Kebun Rancabali berada dalam struktur PTPN VIII.

Dalam perkembangan selanjutnya, Rancabali menjadi salah satu kawasan perkebunan teh penting di Jawa Barat. Produk tehnya tidak hanya digunakan untuk pasar domestik, tetapi juga menjadi bagian dari produksi teh yang dipasarkan ke luar negeri.

Sejarah Rancabali memperlihatkan dua lapisan sejarah sekaligus. Kebunnya memiliki akar sejak perkebunan swasta Belanda abad ke-19, sedangkan pabrik yang menjadi pusat pengolahan modernnya dibangun pada masa Indonesia merdeka.

Dari perkebunan kolonial, nasionalisasi 1958, pembentukan Kebun Rancabali pada 1975, peresmian pabrik pada 1976 hingga modernisasi menjadi fasilitas CTC Walini pada 1986, Rancabali terus mengalami perubahan mengikuti kebutuhan industri teh.

Kini, nama Rancabali tetap menjadi bagian penting dari identitas teh Bandung Selatan. Kawasan perkebunan tersebut bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menyimpan jejak perkembangan teknologi dan sejarah perusahaan perkebunan Indonesia selama lebih dari satu abad.