BREBES, TandaGlobalNews Di lereng barat Gunung Slamet, Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terdapat salah satu perkebunan teh bersejarah yang masih bertahan hingga kini. Perkebunan dan Pabrik Teh Kaligua merupakan peninggalan masa kolonial dengan sejarah lebih dari satu abad.

Sejarah Kaligua bermula pada 1879 ketika perkebunan tersebut didirikan oleh NV Cultuur Onderneming, perusahaan asal Belanda. Dalam menjalankan kegiatan perkebunan di Indonesia, perusahaan tersebut menunjuk perwakilan yang berkedudukan di Batavia.

Pengembangan perkebunan kemudian berlanjut hingga 1889. Pada tahun itu, pabrik teh didirikan di sekitar perkebunan Kaligua untuk mengolah hasil kebun menjadi teh hitam. Pengelolaan fasilitas tersebut dikaitkan dengan Van De Jong, warga Belanda yang menjalankan kegiatan perkebunan di kawasan tersebut.

Salah satu cerita yang melekat dalam sejarah Kaligua terjadi saat peralatan pabrik mulai didatangkan. Pada 1901, ketel uap dan mesin pengolahan berukuran besar dibawa dari Paguyangan menuju kawasan perkebunan Kaligua.

Jalur menuju perkebunan pada masa tersebut belum seperti sekarang. Mesin-mesin itu harus dibawa para pekerja dengan berjalan kaki melalui jarak sekitar 15 kilometer. Proses pengangkutan bahkan berlangsung selama sekitar 20 hari.

Dalam perjalanan tersebut, para pekerja mendapatkan hiburan berupa kesenian tradisional ronggeng dan gamelan ketika beristirahat. Tradisi itu kemudian terus dikenang melalui kegiatan peringatan sejarah berdirinya pabrik.

Perkembangan industri teh Kaligua terganggu ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Penguasaan perkebunan berpindah kepada pemerintah pendudukan Jepang. Sebagian tanaman teh mengalami kerusakan, sementara sejumlah areal digunakan untuk tanaman pangan.

Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan perkebunan mengalami perubahan beberapa kali seiring proses nasionalisasi dan pembentukan perusahaan perkebunan negara. Kaligua kemudian masuk dalam jaringan perkebunan negara yang pada akhirnya berkembang menjadi PTPN IX.

PTPN IX pernah mengelola tiga unit pabrik teh, yakni Kaligua, Semugih, dan Jolotigo. Ketiganya memproduksi teh hitam dengan sistem Orthodox dan menjadi bagian dari jaringan produksi teh perusahaan.

Kaligua memiliki karakter geografis yang berbeda dari Semugih dan Jolotigo. PTPN IX mencatat Kebun Kaligua berada pada ketinggian sekitar 1.200 hingga 2.050 meter di atas permukaan laut, sehingga menjadikannya sebagai perkebunan teh dataran tinggi.

Selain menghasilkan teh untuk kebutuhan industri, Kaligua kemudian berkembang menjadi kawasan agrowisata. Hamparan perkebunan, bangunan bersejarah, serta cerita panjang perjalanan pabrik menjadi bagian dari daya tarik kawasan tersebut.

Produk hilir juga mulai dikembangkan. Teh bubuk Kaligua yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan internal kemudian dipasarkan secara lebih luas. Sekitar 2005, pengembangan produk hilir dan agrowisata menjadi bagian dari pengembangan usaha kebun.

Kaligua juga menghasilkan berbagai produk teh, termasuk teh celup dan teh putih. Pengembangan produk tersebut menunjukkan perubahan orientasi perusahaan, dari sekadar menghasilkan bahan baku menjadi mengembangkan produk yang dapat langsung diterima konsumen.

Kini, sejarah Kaligua menjadi salah satu aset penting perkebunan teh Jawa Tengah. Pabrik yang dibangun pada akhir abad ke-19 tersebut menjadi saksi perkembangan teknologi pengolahan teh, perubahan pemerintahan, nasionalisasi perkebunan, hingga modernisasi perusahaan negara.

Lebih dari sekadar kebun teh, Kaligua merupakan bagian dari sejarah industri perkebunan Indonesia. Dari pengangkutan mesin menggunakan tenaga manusia pada awal abad ke-20 hingga sistem produksi modern, perjalanan Kaligua menunjukkan bagaimana sebuah perkebunan kolonial mampu bertahan dan beradaptasi melewati lebih dari satu abad perubahan zaman.