KEDIRI, Tandaglobal.news — Pengabdian sebagai guru honorer tidak hanya menuntut kemampuan mengajar, tetapi juga kesabaran dan kemauan untuk terus belajar. Hal itu dijalani Ananta Dwi Kurniawan (25), guru honorer mata pelajaran Bahasa Inggris di SDN Jarak 1, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, yang saat ini menerima gaji sekitar Rp400 ribu.
Di tengah penghasilan yang terbatas, Ananta Dwi Kurniawan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai pendidik.
Selain mengajar, ia juga mendapat tugas sebagai penanggung jawab atau person in charge (PIC) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya, khususnya dalam distribusi makanan bagi sekitar 135 penerima manfaat.
Ananta mengatakan, kebijakan pemerintah mengenai pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu menjadi kabar baik, terutama bagi mereka yang telah lama mengabdi.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap dedikasi guru honorer sekaligus memberikan harapan untuk memperoleh status kepegawaian dan kesejahteraan yang lebih baik.
“Menurut saya, kebijakan PPPK penuh waktu sudah tepat, terutama bagi guru honorer yang sudah lama mengabdi. Ini menjadi bentuk apresiasi dari pemerintah atas pengabdian mereka,” ungkap Ananta, Selasa (20/10/2026).
Ia telah mengabdi di SDN Jarak 1 selama sekitar satu tahun enam bulan.
Meski masa pengabdiannya di sekolah tersebut belum terlalu lama, Ananta mengaku harus melewati proses adaptasi, terutama karena sebelumnya menempuh jalur Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan.
Berhadapan langsung dengan karakter dan kebutuhan murid di sekolah menjadi pengalaman tersendiri baginya.
Selain menyesuaikan metode pembelajaran, ia juga berupaya membangun komunikasi dengan sesama guru, khususnya di lingkungan Kecamatan Plosoklaten.
“Adaptasi dengan murid menjadi salah satu tantangan bagi saya. Saya juga masih terus membangun komunikasi dan memperluas jaringan dengan guru-guru lain agar bisa saling belajar,” jelasnya.
Di luar tugas mengajar, tanggung jawab sebagai PIC MBG turut menambah aktivitasnya di sekolah.
Ia terlibat dalam pengaturan distribusi makanan bergizi bagi sekitar 135 penerima manfaat. Peran tersebut menuntut koordinasi agar pelaksanaan program berjalan sesuai kebutuhan sekolah.
Meski memiliki tanggung jawab tambahan, Ananta tetap berharap dapat mengembangkan kompetensinya sebagai pendidik.
Baginya, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memberikan pelayanan dan pendampingan terbaik bagi peserta didik.
Terkait rencana pembukaan jalur seleksi aparatur sipil negara (ASN) pada tahun mendatang, Ananta menyambutnya sebagai peluang yang patut dipersiapkan.
Ia berharap kesempatan seleksi PPPK maupun calon pegawai negeri sipil (CPNS) dapat menjadi jalan untuk mewujudkan target kariernya sebagai pendidik.
“Harapan saya, ke depan ada kesempatan untuk mengikuti seleksi dan bisa lolos. Saya juga ingin terus meningkatkan kompetensi supaya bisa menjadi guru yang lebih baik dan memberikan pelayanan terbaik kepada murid,” katanya.
Bagi Ananta, peningkatan kesejahteraan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Ia berharap para guru honorer di Kabupaten Kediri tetap bersemangat mengembangkan kemampuan, sembari memperoleh kesempatan yang adil untuk mengikuti seleksi kepegawaian sesuai ketentuan pemerintah.
Dengan penghasilan sekitar Rp400 ribu dan sejumlah tanggung jawab di sekolah, Ananta menjadi salah satu potret guru honorer yang masih berjuang membangun karier di dunia pendidikan.
Harapan terhadap kebijakan PPPK penuh waktu dan peluang seleksi ASN berikutnya menjadi bagian dari upayanya untuk melanjutkan pengabdian sekaligus meraih masa depan yang lebih baik.



















Tinggalkan Balasan