
Mujiono menjelaskan, benda-benda tersebut tidak ditemukan dalam satu lokasi yang sama persis.
Beberapa objek ditemukan tersebar di sekitar area persawahan bagian selatan, di antara wilayah Dusun Kwabinong dan Dusun Tempuran.
Salah satu objek berukuran cukup besar dan bentuknya menyerupai lembu.
Mujiono memperkirakan benda tersebut berkaitan dengan Lembu Nandini, meski kondisinya sudah tidak utuh.
Sementara objek lainnya memiliki bentuk menyerupai sosok dewa yang menurut perkiraannya dapat berkaitan dengan tokoh seperti Siwa atau Brahma.
Namun, Mujiono menegaskan bahwa perkiraan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan identitas dan latar sejarah masing-masing arca.
Setelah puluhan tahun menyimpan benda-benda tersebut, Mujiono akhirnya memilih menyerahkan dan menitipkannya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri untuk selanjutnya mendapatkan penanganan dan ditempatkan di Museum Sri Aji Jayabaya.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar benda yang ditemukan sejak puluhan tahun lalu tidak hanya tersimpan di rumah, tetapi dapat diteliti oleh pihak yang memiliki keahlian di bidang arkeologi.
“Harapannya bisa diteliti oleh para arkeolog. Dari situ mungkin bisa diketahui bagaimana cikal bakal sejarah Kediri dan apa sebenarnya benda-benda ini,” katanya.
Mujiono juga berharap keberadaan arca tersebut nantinya tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kalau sudah diteliti dan ditempatkan dengan baik, generasi muda bisa melihat dan belajar bahwa di daerah kita juga banyak peninggalan sejarah yang harus dijaga,” pungkasnya.
Sementara itu, status ketiga arca yang baru dievakuasi tersebut belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya.
Ketiganya masih merupakan benda yang diduga cagar budaya dan membutuhkan identifikasi serta kajian lebih lanjut untuk memastikan usia, identitas, dan nilai sejarahnya.



















Tinggalkan Balasan