
KEDIRI, TandaGlobal.news — Puluhan tahun lalu, sebuah batu yang tergeletak di area persawahan sekitar Desa Sidomulyo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, tidak banyak mendapat perhatian warga. Benda tersebut bahkan sempat dimanfaatkan petani untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Namun, bagi Mujiono, benda itu memiliki keunikan tersendiri. Saat menemukannya sekitar tahun 1990–1991, Mujiono yang ketika itu masih menjadi mahasiswa awal Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya, kini Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mulai menduga bahwa batu tersebut bukan sekadar batu biasa.
Mujiono mengatakan, saat itu dirinya sering bermain di area persawahan milik keluarganya yang ditanami padi, tebu, dan jagung.
Di lokasi tersebut, ia menemukan sejumlah batu yang bentuknya menyerupai peninggalan sejarah yang pernah dipelajarinya di bangku kuliah.
“Waktu itu saya masih mahasiswa, angkatan 1990. Saya sering ke sawah keluarga. Karena pernah mendapat pelajaran Sejarah Kebudayaan dan Sejarah Seni Rupa Indonesia, saya melihat bentuk batu itu seperti ada kemiripan dengan arca,” ujar Mujiono, Rabu (7/10/2026).
Sebelum diselamatkan, batu-batu tersebut berada di tengah area persawahan dan belum diketahui nilai sejarahnya oleh masyarakat sekitar.
Bahkan, beberapa di antaranya digunakan petani untuk membantu pekerjaan di sawah.
Mujiono menuturkan, batu tersebut pernah digunakan sebagai alas untuk ngebLok, yakni mengetukkan atau merontokkan bulir padi setelah panen.
Ada pula yang dimanfaatkan untuk wangkil atau nanding, sebagai batu pemukul maupun ganjalan ketika mengencangkan cangkul yang longgar.
Selain itu, batu tersebut juga digunakan untuk membantu mengasah atau mengencangkan peralatan pertanian seperti arit dan sabit.
Kondisi tersebut membuat Mujiono merasa perlu menyelamatkan benda yang diduga memiliki nilai sejarah tersebut.
Ia kemudian membawa salah satu temuan dari area persawahan menuju rumah menggunakan sepeda motor tua bersama seorang tetangganya.
“Dulu dibawa dari sawah menggunakan motor Yamaha 75 bersama tetangga. Setelah itu saya taruh di taman rumah,” ungkapnya.

Mujiono menjelaskan, benda-benda tersebut tidak ditemukan dalam satu lokasi yang sama persis.
Beberapa objek ditemukan tersebar di sekitar area persawahan bagian selatan, di antara wilayah Dusun Kwabinong dan Dusun Tempuran.
Salah satu objek berukuran cukup besar dan bentuknya menyerupai lembu.
Mujiono memperkirakan benda tersebut berkaitan dengan Lembu Nandini, meski kondisinya sudah tidak utuh.
Sementara objek lainnya memiliki bentuk menyerupai sosok dewa yang menurut perkiraannya dapat berkaitan dengan tokoh seperti Siwa atau Brahma.
Namun, Mujiono menegaskan bahwa perkiraan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan identitas dan latar sejarah masing-masing arca.
Setelah puluhan tahun menyimpan benda-benda tersebut, Mujiono akhirnya memilih menyerahkan dan menitipkannya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri untuk selanjutnya mendapatkan penanganan dan ditempatkan di Museum Sri Aji Jayabaya.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar benda yang ditemukan sejak puluhan tahun lalu tidak hanya tersimpan di rumah, tetapi dapat diteliti oleh pihak yang memiliki keahlian di bidang arkeologi.
“Harapannya bisa diteliti oleh para arkeolog. Dari situ mungkin bisa diketahui bagaimana cikal bakal sejarah Kediri dan apa sebenarnya benda-benda ini,” katanya.
Mujiono juga berharap keberadaan arca tersebut nantinya tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kalau sudah diteliti dan ditempatkan dengan baik, generasi muda bisa melihat dan belajar bahwa di daerah kita juga banyak peninggalan sejarah yang harus dijaga,” pungkasnya.
Sementara itu, status ketiga arca yang baru dievakuasi tersebut belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya.
Ketiganya masih merupakan benda yang diduga cagar budaya dan membutuhkan identifikasi serta kajian lebih lanjut untuk memastikan usia, identitas, dan nilai sejarahnya.



















Tinggalkan Balasan