SLEMAN, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Beran merupakan salah satu peninggalan sejarah industri gula kolonial di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berlokasi di Beran, Kalurahan Tridadi, kawasan ini dahulu menjadi bagian dari perkembangan perkebunan tebu dan industri gula pada masa Hindia Belanda.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat Pabrik Gula Beran sebagai salah satu dari 19 pabrik gula yang pernah berdiri di wilayah Yogyakarta. Perkembangan industri tersebut didukung kondisi tanah, ketersediaan air, serta sistem irigasi yang menunjang budidaya tebu.
Berdiri pada Abad ke-19
Berdasarkan data Sistem Informasi Cagar Budaya Yogyakarta, Pabrik Gula Beran mulai berdiri pada 1874. Pembangunannya dikaitkan dengan J.M. Pijnacker Hordijk.
Pabrik ini memanfaatkan lahan di kawasan Vorstenlanden melalui sistem sewa tanah atau erfpacht. Catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman juga menyebut kawasan Beran sebagai kompleks industri gula pada masa kolonial.
Perbedaan informasi dalam sejumlah sumber mengenai pendirian dan kepemilikan pabrik perlu diperhatikan ketika menelusuri sejarahnya. Salah satu pengembangan besar tercatat berlangsung pada 1928, ketika industri gula masih menjadi bagian penting dari kegiatan ekonomi di Sleman.
Menghadapi Krisis Industri Gula
Perjalanan Pabrik Gula Beran tidak terlepas dari kondisi industri gula di Pulau Jawa. Memasuki dekade 1930-an, krisis ekonomi dunia atau Malaise turut memukul industri tersebut.
Produksi gula mengalami penurunan dan sejumlah pabrik menghadapi kesulitan. Pabrik Gula Beran masih sempat beroperasi pada periode itu, meskipun produksinya menurun.
Kemunduran industri gula juga berkaitan dengan kebijakan pengurangan produksi gula di Jawa pada awal dekade 1930-an. Kombinasi tekanan ekonomi global dan perubahan kebijakan tersebut membuat masa kejayaan industri gula di Yogyakarta perlahan berakhir.
Rusak pada Masa Perang
Kompleks Pabrik Gula Beran mengalami kerusakan akibat berbagai peristiwa pada masa perang. Data Sistem Informasi Cagar Budaya Yogyakarta mencatat kompleks bangunan pabrik rusak ketika Agresi Militer Belanda II pada 1949.
Banyak bangunan kemudian dibongkar sehingga kompleks tersebut tidak lagi bertahan seperti pada masa kolonial. Bangunan utama yang dahulu menjadi pusat kegiatan produksi gula akhirnya hilang.
Beralih Menjadi Pusat Pemerintahan Sleman
Setelah aktivitas industri gula berakhir, kawasan bekas Pabrik Gula Beran mengalami perubahan fungsi. Pemerintah Kabupaten Sleman kemudian memanfaatkannya sebagai pusat pemerintahan.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman mencatat bahwa pada 1964, Bupati Sleman KRT Murdodiningrat memindahkan pusat pemerintahan kabupaten ke Dusun Beran, Kalurahan Tridadi, yang merupakan bekas kompleks pabrik gula tersebut.
Salah satu bangunan yang masih relatif utuh kemudian dimanfaatkan sebagai Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sleman. Pemerintah Daerah DIY menyebut bangunan itu sebagai satu-satunya peninggalan Pabrik Gula Beran yang masih relatif utuh dan memiliki nilai sejarah, arsitektur, serta pendidikan.
Jejak Sejarah yang Masih Diingat
Meskipun bangunan utama Pabrik Gula Beran telah hilang, sejarahnya tetap melekat pada kawasan pemerintahan Kabupaten Sleman.
Pada 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman mengadakan walking tour untuk mengenalkan sejarah kawasan bekas pabrik gula kepada masyarakat.
Jejak sejarah Pabrik Gula Beran juga ditampilkan dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 melalui pameran foto-foto pabrik tersebut. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali sejarah kawasan yang kini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pelayanan publik.
Pabrik Gula Beran bukan sekadar bagian dari sejarah industri gula kolonial di Sleman, melainkan juga saksi perubahan fungsi kawasan dari pusat produksi gula menjadi pusat pemerintahan kabupaten. Peninggalan bangunan yang masih tersisa menjadi pengingat perkembangan ekonomi, arsitektur, dan kehidupan masyarakat Sleman pada masa lalu.



















Tinggalkan Balasan