SLEMAN, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Demakijo atau dalam ejaan Belanda dikenal sebagai Suikerfabriek Demak Idjo merupakan salah satu peninggalan industri gula era kolonial yang pernah berkembang di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pabrik ini berada di Banyuraden, Gamping, dan menjadi bagian dari jaringan perkebunan tebu yang berkembang pada awal abad ke-20.

Berdiri pada awal abad ke-20

Keberadaan Pabrik Gula Demakijo berkaitan dengan perkembangan industri perkebunan di Yogyakarta setelah kebijakan ekonomi liberal dan Agrarische Wet 1870 diberlakukan. Kebijakan tersebut membuka ruang lebih besar bagi perusahaan swasta untuk menanamkan modal di sektor perkebunan, termasuk komoditas tebu.

Sejumlah sumber mencatat Demakijo mulai dibangun sekitar 1905. Sementara itu, penelitian sejarah yang terbit pada 2025 menelusuri aktivitas pabrik dalam rentang 1906–1936. Perbedaan tersebut membuat tahun-tahun itu lebih tepat dipahami sebagai periode awal keberadaan Demakijo dalam industri gula, bukan satu tanggal pendirian yang sepenuhnya tidak diperdebatkan.

Pabrik tersebut dikelola oleh N.V. Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden. Lokasinya didukung kondisi geografis yang sesuai untuk budidaya tebu serta akses transportasi yang menunjang distribusi hasil produksi.

Terhubung jaringan transportasi

Perkembangan industri gula di Yogyakarta tidak terlepas dari pembangunan jaringan transportasi. Jalur kereta api dan lori digunakan untuk menunjang kegiatan perkebunan, mulai dari membawa tebu menuju pabrik hingga mengangkut hasil produksi.

Demakijo menjadi salah satu pabrik gula yang pernah berdiri di wilayah Yogyakarta. Sistem transportasi tersebut menjadi bagian penting dari rantai produksi dan distribusi industri gula pada masa kolonial.

Penelitian mengenai Demak Idjo periode 1906–1936 juga mencatat hasil produksi pabrik didistribusikan melalui jaringan perdagangan hingga Pelabuhan Semarang.

Terdampak krisis industri gula

Masa kejayaan Demakijo kemudian menghadapi tekanan ketika industri gula Jawa mengalami krisis pada awal dekade 1930-an. Penurunan harga gula dan kondisi ekonomi dunia menyebabkan sejumlah perusahaan gula harus mengurangi produksi atau menghentikan kegiatan.

Sumber sejarah mengenai Demakijo menyebut pabrik tersebut akhirnya berhenti beroperasi pada 1933. Penutupan ini terjadi ketika sejumlah pabrik gula di Yogyakarta juga mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi dan perubahan kondisi perdagangan gula dunia.

Berubah menjadi pabrik senjata

Sejarah Demakijo tidak berhenti setelah aktivitas pergulaan berakhir. Bekas kompleks pabrik kemudian memiliki fungsi lain dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Pada masa setelah kemerdekaan, kawasan bekas Pabrik Gula Demakijo digunakan sebagai pabrik senjata. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mencatat fasilitas tersebut menempati bangunan bekas pabrik gula dan berkaitan dengan penyediaan serta penyimpanan berbagai perlengkapan untuk mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pemanfaatan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan laboratorium militer di Yogyakarta. Kegiatan di Demakijo kemudian berakhir pada masa Agresi Militer Belanda II pada 1948.

Jejak Demakijo hingga sekarang

Saat ini, Pabrik Gula Demakijo lebih dikenal sebagai bagian dari sejarah industri gula dan perkembangan kawasan Banyuraden serta Sleman. Keberadaannya menjadi salah satu contoh pengaruh industri perkebunan kolonial terhadap perkembangan ekonomi, transportasi, permukiman, dan kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Penelitian akademik yang diterbitkan pada 2025 juga menunjukkan bahwa keberadaan Demak Idjo tidak hanya berkaitan dengan produksi gula, tetapi turut membawa perubahan terhadap struktur sosial-ekonomi dan kehidupan budaya masyarakat di sekitarnya.

Dengan demikian, sejarah Demakijo memiliki beberapa lapisan penting, mulai dari industri gula pada masa kolonial, krisis dan penutupan pabrik, perubahan fungsi pada masa perjuangan kemerdekaan, hingga peninggalan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kawasan Banyuraden dan Sleman.

Catatan sejarah mengenai tahun pendirian Demakijo perlu ditulis secara hati-hati. Ada sumber yang mencatat pembangunan pada 1905, sementara penelitian akademik menggunakan rentang 1906–1936 untuk menelusuri eksistensinya.