JAKARTA, Tandaglobal.news — Video yang membahas kontroversi karnaval di Pekalongan menjadi perhatian publik setelah menampilkan sejumlah simbol yang oleh sebagian pihak dianggap berkaitan dengan satanisme dan praktik okultisme.
Pembahasan tersebut diangkat dalam program C8 Podcast bertajuk “Viral! Ritual Karnaval Pekalongan, Bongkar Ritual dan Simbol di Balik Acara Itu”. Episode yang tayang pada 20 September 2026 itu menghadirkan Sara Wijayanto, Jamaluddin Daris, dan Mongol Stres sebagai narasumber.
Dalam tayangan tersebut, para narasumber membahas sejumlah elemen yang terlihat dalam video karnaval, termasuk peti mati, simbol pentagram, lilin, serta prosesi penyembelihan hewan. Elemen-elemen itu kemudian dikaitkan dengan berbagai tafsir mengenai simbolisme, kepercayaan, dan praktik ritual.
Salah satu bagian pembahasan menyoroti keberadaan peti mati dengan simbol pentagram yang disebut menjadi perhatian warganet. Simbol tersebut kemudian ditafsirkan oleh sebagian pihak sebagai lambang yang berkaitan dengan satanisme. Namun, tayangan itu belum menunjukkan bukti yang dapat memastikan bahwa kegiatan tersebut benar-benar merupakan ritual satanik.
Pembahasan juga menyinggung prosesi penyembelihan hewan yang disebut muncul dalam rangkaian acara. Narasumber mengaitkan adegan tersebut dengan praktik okultisme berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang mereka sampaikan dalam podcast.
Meski demikian, Mongol Stres menyebut bahwa pihak panitia menjelaskan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pertunjukan seni. Pernyataan itu menjadi salah satu sudut pandang yang perlu diperhatikan agar kontroversi tidak langsung disimpulkan sebagai praktik keagamaan atau ritual tertentu tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Selain membahas simbol-simbol dalam karnaval, episode tersebut turut mengangkat pengalaman masa lalu Mongol Stres yang pernah bersinggungan dengan tema satanik serta proses perubahan keyakinan dan kehidupannya. Ia juga menyampaikan pesan agar anak muda tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang belum dipahami secara menyeluruh.
Kontroversi mengenai karnaval Pekalongan hingga kini perlu dilihat secara hati-hati. Penafsiran terhadap simbol, tujuan penyelenggaraan acara, serta makna setiap prosesi membutuhkan klarifikasi dari panitia dan pihak terkait. Informasi yang beredar melalui media sosial maupun kolom komentar juga perlu diverifikasi sebelum dijadikan dasar kesimpulan.
Berita mengenai dugaan ritual dalam acara tersebut sebaiknya tidak hanya mengandalkan potongan video atau pendapat narasumber, tetapi juga dilengkapi keterangan resmi dari penyelenggara, pemerintah daerah, tokoh agama, serta pihak lain yang mengetahui pelaksanaan kegiatan secara langsung.



















Tinggalkan Balasan