Dalam perkembangan berikutnya, massa berpindah ke jembatan yang mengarah ke pintu utama GSG.

Mereka masih berupaya masuk ke area muktamar dan menuntut Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul hadir menemui mereka.

“Gus Ipul harus hadir di sini. Sekali lagi kami tidak akan pernah lelah,” kata orator.

Panitia menyebut kericuhan berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB dan diduga melibatkan sejumlah orang yang bukan muktamirin.

Gus Amik Izzul Islam dari Bidang Media dan Publikasi Panitia Lokal Muktamar mengatakan ada pihak yang menggunakan atribut salah satu bakal calon.

“Ketika tim kami turun ke lapangan, ada oknum-oknum yang menggunakan atribut salah satu bakal calon, Gus Yusuf. Tapi kaosnya dibalik,” ujar Gus Amik.

Menurutnya, kericuhan berlangsung setelah pimpinan sidang bersama masyayikh menetapkan tata tertib terkait pemilihan Ketua Umum PBNU.

“Salah satu poin bahwa ketua umum itu harus iddah minimal satu tahun dari partai politik maupun jabatan-jabatan apa pun,” jelasnya.

Gus Amik juga menyebut terdapat gangguan terhadap fasilitas di arena sidang.

“Jadi ada yang sempat terbakar. Setelah itu keamanan berhasil memundurkan oknum-oknum yang membuat ricuh ini di sebelah barat tenda,” katanya.

Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari dinamika dalam muktamar.

Ia meminta persoalan tersebut dilihat secara utuh.

“Itu biasa lah dinamika. Ini sebagai bagian dari pernak-perniknya muktamar. Kita lihat nanti seperti apa. Harus kita pahami secara utuh, tidak boleh sepotong-sepotong,” ujar Gus Ipul.