Tandaglobal.news JOMBANG – Di tengah sejarah panjang perkembangan industri gula di Pulau Jawa, Pabrik Gula (PG) Djombang Baru menjadi salah satu pabrik yang memiliki peran penting dalam mendukung produksi gula nasional. Berlokasi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pabrik ini telah berdiri sejak masa pemerintahan Hindia Belanda dan menjadi saksi berbagai peristiwa besar yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, hingga era modernisasi industri gula yang berlangsung sampai sekarang.

Selama lebih dari satu abad, PG Djombang Baru tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan tebu menjadi gula, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Ribuan petani tebu, pekerja pabrik, pelaku usaha transportasi, hingga pedagang kecil menggantungkan kehidupan mereka pada keberlangsungan operasional pabrik yang setiap musim giling selalu dipenuhi aktivitas pengangkutan tebu dari berbagai wilayah di Kabupaten Jombang dan sekitarnya.

Hingga kini, PG Djombang Baru dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) melalui Sub Holding Gula PTPN, sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat industri gula nasional sekaligus mendukung program ketahanan pangan Indonesia.

Sejarah PG Djombang Baru bermula pada tahun 1881, ketika pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah pabrik gula di wilayah Jombang. Pada masa itu, industri gula merupakan salah satu sektor ekonomi terpenting di Nusantara. Tingginya permintaan gula dari pasar internasional mendorong pemerintah kolonial mendirikan puluhan pabrik gula di berbagai daerah di Pulau Jawa, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dikenal memiliki lahan subur untuk budidaya tebu.

Kabupaten Jombang dipilih sebagai lokasi pembangunan pabrik karena memiliki kondisi geografis yang sangat mendukung. Tanah aluvial yang subur, iklim tropis dengan curah hujan yang sesuai, serta keberadaan jaringan irigasi menjadikan daerah ini sebagai kawasan potensial untuk pengembangan perkebunan tebu dalam skala besar.

Pembangunan PG Djombang Baru juga didukung oleh berkembangnya infrastruktur transportasi pada masa itu. Jalur kereta api dan jalan penghubung dibangun untuk mempermudah pengangkutan tebu dari perkebunan menuju pabrik serta distribusi gula ke pelabuhan-pelabuhan di Jawa sebelum diekspor ke berbagai negara.

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, industri gula di Pulau Jawa mengalami masa kejayaan. Hindia Belanda menjadi salah satu produsen gula terbesar di dunia, dengan hasil produksi yang dipasarkan ke Eropa, Asia, hingga Amerika.

PG Djombang Baru termasuk dalam jaringan pabrik gula yang menopang keberhasilan tersebut. Mesin-mesin penggilingan yang digunakan saat itu merupakan teknologi modern pada masanya dan terus diperbarui untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Hubungan antara pabrik dengan para petani tebu mulai terbentuk melalui sistem kemitraan yang memungkinkan pasokan bahan baku tetap terjaga setiap musim giling. Kehadiran pabrik juga mendorong pertumbuhan kawasan permukiman di sekitarnya karena banyak masyarakat yang bekerja sebagai buruh pabrik, tenaga administrasi, teknisi, maupun pekerja angkut.

Aktivitas pabrik tidak hanya menghasilkan gula, tetapi juga menghidupkan berbagai sektor ekonomi lain seperti perdagangan, jasa transportasi, bengkel peralatan, hingga pasar-pasar tradisional yang melayani kebutuhan para pekerja.

Memasuki tahun 1942, situasi berubah drastis ketika Jepang menduduki Indonesia. Hampir seluruh industri gula mengalami penurunan produksi akibat perubahan kebijakan ekonomi perang.

Sebagian besar sumber daya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan militer Jepang. Banyak mesin pabrik yang tidak memperoleh perawatan optimal karena keterbatasan suku cadang, sementara lahan perkebunan tebu di sejumlah daerah dialihkan menjadi lahan tanaman pangan yang dianggap lebih penting bagi kepentingan perang.

PG Djombang Baru pun tidak luput dari kondisi tersebut. Produksi gula mengalami penurunan dibandingkan masa sebelumnya, meskipun pabrik tetap berusaha mempertahankan operasionalnya dalam berbagai keterbatasan.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, industri gula nasional menghadapi tantangan besar untuk kembali bangkit. Kondisi politik yang belum stabil serta berbagai konflik pada masa revolusi menyebabkan proses pemulihan berjalan secara bertahap.

PG Djombang Baru perlahan kembali menjalankan aktivitas produksi seiring membaiknya situasi keamanan. Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah-langkah untuk menghidupkan kembali sektor perkebunan dan industri gula sebagai salah satu penopang perekonomian nasional.

Peran petani tebu menjadi sangat penting dalam proses pemulihan tersebut. Mereka kembali menanam tebu dan memasok hasil panennya ke pabrik, sehingga roda produksi dapat kembali berjalan.

Pada dekade 1950-an hingga 1960-an, pemerintah Indonesia melaksanakan kebijakan nasionalisasi terhadap berbagai perusahaan peninggalan kolonial yang masih beroperasi di Indonesia.

Melalui kebijakan tersebut, pengelolaan PG Djombang Baru beralih ke pemerintah dan kemudian menjadi bagian dari perusahaan perkebunan milik negara. Seiring perjalanan waktu, struktur organisasi perusahaan beberapa kali mengalami perubahan mengikuti kebijakan restrukturisasi BUMN perkebunan.

Kini PG Djombang Baru berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) dalam struktur Sub Holding Gula PTPN, yang dibentuk untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing industri gula nasional, serta mempercepat modernisasi pabrik-pabrik gula milik negara.

Memasuki era modern, PG Djombang Baru terus melakukan pembaruan teknologi agar mampu memenuhi kebutuhan industri gula yang semakin berkembang.

Modernisasi dilakukan pada berbagai aspek, mulai dari pembaruan mesin penggilingan, peningkatan efisiensi ketel uap, sistem pemurnian nira, hingga peralatan pengemasan gula. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas Gula Kristal Putih (GKP) yang dipasarkan kepada masyarakat.

Selain menghasilkan gula, pabrik juga memanfaatkan hasil samping produksi. Ampas tebu (bagasse) digunakan sebagai bahan bakar ketel untuk menghasilkan energi listrik dan uap, sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Tetes (molasses) dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan, minuman, fermentasi, dan bioetanol, sedangkan blotong digunakan sebagai pupuk organik untuk mendukung budidaya tebu.

Salah satu kekuatan utama PG Djombang Baru adalah hubungan kemitraan yang telah terjalin lama dengan petani tebu di Kabupaten Jombang dan wilayah sekitarnya.

Setiap musim giling, ribuan ton tebu dikirim ke pabrik dari lahan-lahan pertanian yang dikelola petani maupun perkebunan perusahaan. Aktivitas tersebut menjadi denyut ekonomi masyarakat karena melibatkan banyak tenaga kerja, mulai dari proses panen, pengangkutan, penimbangan, hingga penggilingan.

Melalui kemitraan tersebut, pabrik juga memberikan pembinaan kepada petani mengenai teknik budidaya tebu, penggunaan bibit unggul, hingga peningkatan produktivitas lahan agar hasil panen semakin optimal.

Keberadaan PG Djombang Baru memberikan dampak ekonomi yang luas bagi Kabupaten Jombang. Selain membuka lapangan pekerjaan bagi karyawan tetap dan pekerja musiman, aktivitas pabrik turut menggerakkan sektor transportasi, perdagangan, jasa perawatan mesin, penyedia pupuk, hingga usaha mikro di sekitar kawasan pabrik.

Pada musim giling, suasana sekitar pabrik selalu ramai dengan lalu lintas kendaraan pengangkut tebu yang datang silih berganti dari berbagai kecamatan. Aktivitas tersebut menjadi pemandangan khas yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas daerah.

Di samping fungsi ekonominya, PG Djombang Baru juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan-bangunan lama, cerobong asap, serta beberapa fasilitas peninggalan masa kolonial masih menjadi bukti perkembangan teknologi industri gula dari masa ke masa

Memasuki era persaingan global, industri gula Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, fluktuasi produksi tebu, meningkatnya kebutuhan konsumsi gula, hingga persaingan dengan gula impor.

Sebagai salah satu pabrik gula bersejarah di Jawa Timur, PG Djombang Baru terus melakukan pembenahan melalui modernisasi teknologi, peningkatan efisiensi produksi, digitalisasi operasional, serta penguatan kemitraan dengan petani.

Dengan sejarah yang telah berlangsung lebih dari 140 tahun, PG Djombang Baru tidak hanya menjadi simbol perkembangan industri gula di Kabupaten Jombang, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjang sektor perkebunan Indonesia. Dari masa kolonial hingga era modern, pabrik ini terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman sembari mempertahankan perannya sebagai salah satu penopang produksi gula nasional dan penggerak perekonomian masyarakat Jawa Timur.